Emiten Tambang ANTM, INCO, & TINS Paling Prospektif, Ini Kata Analis

Tiga saham di sektor pertambangan logam meliputi PT Aneka Tambang Tbk., PT Vale Indonesia Tbk., dan PT Timah Tbk., dinilai paling prospektif pada 2018 seiring dengan kenaikan fundamental kinerja masing-masing emiten dan penguatan harga komoditas metal.
Hafiyyan | 15 Mei 2018 18:04 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Tiga saham di sektor pertambangan logam meliputi PT Aneka Tambang Tbk., PT Vale Indonesia Tbk., dan PT Timah Tbk., dinilai paling prospektif pada 2018 seiring dengan kenaikan fundamental kinerja masing-masing emiten dan penguatan harga komoditas metal.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Sharlita Malik menyampaikan, peningkatan harga logam menopang prospek kinerja emiten logam pada 2018. Saham tambang metal pilihannya adalah INCO (target Rp3.600), TINS (Rp1.150), dan ANTM (Rp1.050).

"Ketiga saham itu mendapat rekomendasi beli," tuturnya saat dihubungi, Senin (14/5/2018).

Pada kuartal I/2018, pendapatan INCO meningkat 18,42% yoy menjadi US$170,45 juta karena pertumbuhan harga jual. Padahal, performa produksi menurun 0,48% yoy menuju 17.141 ton, sedangkan penjualan terkoreksi 2% yoy menjadi 17.240 ton.

Menurutnya, penurunan kinerja operasional pada kuartal I/2018 disebabkan pemeliharaan rutin. Ke depannya, pendapatan INCO berpotensi menguat seiring dengan proyeksi kenaikan harga jual rata-rata produk nikel sebesar 16% yoy.

Adapun, kinerja ANTM terutama didorong penguatan harga emas. Diperkirakan rerata harga batu kuning pada 2018 berada di kisaran US$1.300 per troy ounce.

Associate Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menyampaikan, saham emiten tambang yang paling diuntungkan ialah yang memproduksi timah dan nikel. Oleh karena itu, saham favoritas Reliance di sektor ini adalah TINS dan INCO.

Kinerja TINS dan INCO memang belum apik pada kuartal I/2018. Namun, ke depannya pendapatan perusahaan berpotensi meningkat seiring dengan penguatan harga komoditas yang menjadi produk andalannya.

Pendapatan TINS per Maret 2018 terkoreksi 0,62% yoy menjadi Rp2,03 triliun. Padahal volume penjualan timah perseroan merosot 17% yoy menjadi 5,801 ton.

"Kinerja keuangan TINS terbilang masih cukup baik dengan net ptofit margin di atas 5%, dan earning per share (EPS) growth 148,5%," ujarnya kepada Bisnis, Senin (14/5/2018).

Secara teknikal, saham TINS mencoba rebound pada level support MA200 Rp925. Indikator stochastic dan RSI menunjukkan sinyal bullish dengan target MA50 Rp1.050.

Adapun, INCO bergerak signifikan pada perdagangan Senin (14/5/2018) setelah mengonfirmasi break out MA20 dengan target terdekat Rp3.510. Harga berpotensi menuju Rp4.000 jika berhasil menembus Rp3.800.

Sementara itu, Lanjar menyampaikan, harga timah berpotensi menuju level US$23.300-US$24.000 per ton dengan mengonfirmasi break out US$22.000 per ton. Adapun, harga nikel berpotensi melambung ke US$17.700 per ton pada akhir 2018 jika berhasil melanjutkan tren positif.

Tag : smelter, emiten tambang, kinerja emiten
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top