3 Saham Emiten Tambang Mineral Ini Paling Prospektif

Tiga saham di sektor pertambangan logam, yakni ANTM, INCO, dan TINS dinilai paling prospektif pada 2018 seiring dengan kenaikan fundamental kinerja masing-masing emiten dan penguatan harga komoditas metal.
Hafiyyan | 15 Mei 2018 17:53 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Tiga saham di sektor pertambangan logam, yakni ANTM, INCO, dan TINS dinilai paling prospektif pada 2018 seiring dengan kenaikan fundamental kinerja masing-masing emiten dan penguatan harga komoditas metal.

Analis MNC Sekuritas Sukisnawati Puspitasari dan Gilang Anindito dalam laporannya menyebutkan, dua komoditas logam yang menjadi perhatian ialah nikel dan timah. Harga nikel diperkirakan mengalami tren menguat pada tahun ini seiring dengan meningkatnya permintaan bahan baku baterai.

Hal ini ditunjukkan data impor baterai China yang tumbuh 26,88% year-on-year (yoy) pada kuartal I/2018. Akan tetapi, permintaan dari Negeri Panda cenderung terbatas akibat persediaan baja yang masih tinggi.

"Konsumsi baterai secara global juga dapat mengompensasi proyeksi penurunan penyerapan nikel di China," tulis keduanya dalam riset, Jumat (11/5/2018).

Sementara itu, penguatan harga timah diperkirakan terbatas karena melambatnya penjualan barang elektronik, terutama telepon pintar. Mengutip laporan International Data Corporation (IDC), pengapalan telepon pintar akan melambat pada 2018—2022 dengan pertumbuhan per tahun sekitar 2,8%.

Namun demikian, pasar timah mendapat sentimen positif dari proyeksi berkurangnya produksi China sebesar 15%-20% pada 2018. Oleh karena itu, harga diperkirakan bergerak moderat di level US$19.900—US$20.790 per ton pada tahun ini.

“Kami percaya kinerja keuangan perusahaan tambang logam masih berpotensi tumbuh, didukung harga komoditas yang menguat pada 2018,” paparnya.

Mengutip konsensus Bloomberg, pada 2018 rerata harga nikel diperkirakan berada di level US$13.800 per ton, sedangkan timah US$21.200 per ton. Pada Jumat (11/5/2018), harga masing-masing logam di London Metal Exchange (LME) bertengger di posisi US$14.055 (+10,15% ytd) dan US$20.975 (+4,74% ytd).

Sukisnawati dan Gilang menyebutkan, MNC Sekuritas memberikan pandangan netral terhadap sektor tambang logam. Tiga saham pilihan yang mendapat rekomendasi beli ialah ANTM (target Rp1.030), INCO (Rp3.620), dan TINS (Rp1.250).

Pada penutupan perdagangan Senin (14/5/2018), saham ANTM naik 5 poin atau 0,62% menjadi Rp815. Secara year-to-date (ytd), harga meningkat 30,40%.

Dalam waktu yang sama, saham INCO menguat 190 poin atau 5,90% menuju Rp3.410. Harga meningkat 17,99% secara ytd.

Sementara itu, saham TINS melesu 25 poin atau 2,62% menjadi Rp930. Sepanjang 2018 harga masih meningkat 20%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten tambang, kinerja emiten

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top