Penjualan Krakatau Steel (KRAS) Tumbuh Dua Digit Sepanjang Kuartal I

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membukukan pertumbuhan volume penjualan hingga 30% pada kuartal I/2018 di tengah upaya ekspansi pemasaran yang dilakukan oleh perseroan.
M. Nurhadi Pratomo | 18 April 2018 19:59 WIB
Proses produksi di pabrik milik PT Krakatau Steel - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membukukan pertumbuhan volume penjualan hingga 30% pada kuartal I/2018 di tengah upaya ekspansi pemasaran yang dilakukan oleh perseroan.

Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan bahwa perseroan mengantongi volume penjualan rata-rata 200.000 ton per bulan pada kuartal I/2018. Jumlah tersebut naik 33% dari periode tahun sebelum dengan rata-rata 150.000 ton per bulan.

Akan tetapi, dia menyebut jumlah itu masih sedikit di bawah target volume penjualan per bulan yang dipasang perseroan pada 2018. Emiten berkode saham KRAS itu membidik volume penjualan hingga 215.000 ton tiap bulannya.

Purwono mengatakan perseroan telah mendapatkan sejumlah perjanjian pasokan jangka panjang pada kuartal I/2018. Pertama, KRAS meneken perjanjian pasokan jangka panjang dengan PT Essar Indonesia pada Januari 2018.

Melalui kesepakatan tersebut, sambungnya, KRAS akan memasok hot rolled coil atau baja canai panas 15.000 ton per bulan. Selanjutnya, perseroan menandatangani kesepakatan penawaran bahan baku dengan PT Pertamina (Persero).

Dalam kerja sama tersebut, KRAS akan memasok 24.000 ton cold rolled sheet untuk kebutuhan drum sheet di Pabrik Bitumen Gresik milik Pertamina. Kesepatan tersebut berlaku selama 2 tahun ke depan.

Di sisi lain, Purwono menyebut perseroan tetap mewaspadai dampak dari pengenaan bea masuk baja dan alumunium oleh Amerika Serikat. Kondisi itu berpotensi menyebabkan banjirnya produk asal China ke Asia dan Indonesia. “Kami berharap pemerintah bisa mengambil tindakan dan melindungi baja lokal dari perdagangan tidak adil itu,” jelasnya di Jakarta, Rabu (18/4).

Sementara itu, Direktur Logistik Krakatau Steel Ogi Rolino menjelaskan bahwa sampai dengan Februari 2018 tren harga baja masih positif. Akan tetapi, harga sedikit turun pada Maret 2018 akibat sentimen kebijakan Pemerintah Amerika Serikat terkait impor baja.

Manajemen KRAS menyebut tren harga baja berada di level US$700 per metrik ton. Lompatan harga yang terjadi sejak pertengahan 2017 masih terus berlanjut.

Perseroan menyebut harga normal baja berada di kisaran US$600 hingga US$700 per metrik ton. Rentang harga diproyeksi akan bertahan sepanjang tahun ini.

Sebagai catatan, KRAS membidik volume penjualan 2,8 juta ton pada 2018. Target tersebut naik 40% dibandingkan dengan target yang dipasang pada tahun lalu.

Optimisme tersebut sejalan dengan proyek kebutuhan baja domestik mengalami pertumbuhan 1 juta ton tiap tahunnya. Pada 2016, total permintaan dari dalam negeri sebanyak 12,7 juta ton.

Tag : krakatau steel
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top