Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu memperpanjang reboundnya hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (26/1/2018), saat indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau melemah.
IHSG menguat 0,42% atau 27,95 poin ke level 6.643,28 di akhir sesi I, setelah dibuka dengan kenaikan tipis 0,01% atau 0,80 poin di posisi 6.616,13.
Adapun pada perdagangan Kamis (25/1), IHSG kembali berakhir di zona merah pada perdagangan hari kedua berturut-turut meski hanya dengan koreksi tipis 0,16 poin di level 6.615,33.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di kisaran 6.615,87 - 6.666,26.
Sebanyak 189 saham menguat, 129 saham melemah, dan 253 saham stagnan dari 571 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Enam dari sembilan indeks sektoral IHSG bergerak positif dengan support utama sektor infrastruktur (+2,04%) dan finansial (+0,87%). Adapun sektor aneka industri yang melemah 1,30% memimpin pelemahan tiga sektor lainnya.
Di sisi lain, indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau bergerak di zona merah siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,05%), indeks PSEi Filipina (-0,15%), indeks SE Thailand (-0,06%), dan indeks FTSE Malay KLCI (-0,07%).
Secara keseluruhan, bursa Asia diperdagangkan bervariasi pada perdagangan siang ini setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasuki wacana publik yang tidak biasa mengenai nilai tukar.
Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,2% pada pukul 1.26 siang waktu Tokyo (pukul 11.26 WIB), sedangkan indek Topix turun 0,2%, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,3%, dan indeks Kospi Korea Selatan naik 0,1%.
Dalam wawancara dengan CNBC saat tiba di World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump berkomentar menginginkan dolar yang kuat. Dia juga mengatakan komentar sebelumnya dari Menteri Keuangan Steven Mnuchin tentang pelemahan dolar AS telah keluar dari konteks.
Dilansir Bloomberg, volatilitas pun memacu penilaian kembali atas reli terhadap aset berisiko global yang telah merentangkan valuasi di seluruh kelas aset. Investor juga terus memantau World Economic Forum (WEF) di Davos, di mana Trump akan menyampaikan pidato utamanya di tengah retorika proteksionisme pemerintahannya.