Ini Alasan Rendahnya Kupon ORI014

Pemerintah menetapkan kupon Obligasi Ritel Indonesia tahun 2017 atau ORI014 sebesar 5,85% yang merupakan kupon terendah sepanjang sejarah penerbitan ORI di Indonesia. Apa alasannya?
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 29 September 2017  |  12:44 WIB
Ini Alasan Rendahnya Kupon ORI014
Obligasi Ritel Indonesia - Istimewa

 Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menetapkan kupon Obligasi Ritel Indonesia tahun 2017 atau ORI014 sebesar 5,85% yang merupakan kupon terendah sepanjang sejarah penerbitan ORI di Indonesia. Apa alasannya?

Sebagai informasi, kupon terendah yang pernah ditawarkan pemerintah adalah 6,25%, yakni pada ORI009. Sementara itu, kupon tertinggi yang pernah diberikan yakni untuk ORI001, yakni 12,05%.

Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa penetapan kupon ORI selalu mengacu pada imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor yang sama di pasar sekunder.

Sejak tahun lalu, pemerintah memang menetapkan kupon ORI pada nilai yang relatif sama dengan kondisi yield SUN tenor yang sama di pasar sekunder. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, kupon ORI hampir selalu lebih tinggi dibandingkan dengan SUN tenor yang sama di pasar sekunder untuk menarik minat investor ritel.

Seri SUN yang menjadi acuan penerbitan ORI014 kali ini adalah FR0031 tenor 3 tahun, yang mana yieldnya sempat turun hingga level 5,8% pada 26 September 2017 lalu. Atas dasar itu, pemerintah menetapkan kupon 5,85%.

“Memang ini era penurunan, mau tidak mau kalau ORI014 ini dibandingkan dengan ORI sebelumnya memang turun cukup dalam. Kami berharap walaupun ini 5,85%, investor juga tahu environtment-nya memang begitu,” katanya usai menggelar pembukaan masa penawaran ORI014 di Bursa Efek Indonesia, Jumat (29/9/2017).

Robert mengatakan, kupon yang rendah ini juga merespon keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya kembali hingga kini di level 4,25%. Di sisi lain, inflasi juga masih terkendali di level yang rendah dengan proyeksi semakin rendah tahun depan.

Inflasi bulan ini diproyeksikan hanya sekitar 0,02% secara bulanan atau 3,62% secara tahunan. Hingga akhir tahun, inflasi diprediksi akan sesuai target 4% plus minus 1%, dan tahun depan turun menjadi 3,5% plus minum 1%.

Menurutnya, yield SUN di pasar sekunder masih berpotensi turun lebih rendah lagi di masa mendatang, meskipun sepanjang tahun ini saja yield SUN tenor 10 tahun sudah turun sedikitnya 168,5 bps.

“Kita lihat faktanya fed fund rate naik tetapi suku bunga kita turun. Kita yakin, karena makroekonomi ktia kuat. Pertumbuhan ekonomi di atas 5%, defisit juga rendah, inflasi di bawah 4%. Sehingga mungkin kalau kasih kupon 6% itu sudah terlalu besar karena environment ktia lumayan baik,” katanya.

Menurutnya, koreksi di pasar obligasi sepekan terakhir yang menyebabkan yield SUN di pasar sekunder kembali meningkat kemungkinan hanya gejala sesaat yang akan segera mereda. Yield masih berpotensi turun lagi merespon suku bunga acuan dan fundamental ekonomi Indonesia.

“Kita harapkan angka 5,85% itu bukan angka yang rendah, dilihat dari suku bunga yang sekarang bahkan yang akan datang,” tambahnya.

Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, mengatakan tingkat kupon 5,85% itu juga ditetapkan dengan mempertimbangkan potensi peningkatan rating Indonesia di masa mendatang.

Setelah Standard & Poor’s menaikkan peringkat utang Indonesai di level layak investasi, dua lembaga pemeringkat lain yakni Fitch dan Moody’s yang sudah lebih dahulu memberi peringkat layak investasi pada Indonesia masih berpotensi meningkatkan peringkat Indonesia.

Kedua lembaga pemeringkat itu memberi outlook positif terhadap Indonesia yang mengindikasikan peningkatan peringkat lebih lanjut bila penguatan fundamental ekonomi Indonesia berlanjut.

Atas dasar itu, pemerintah menyakini pasar obligasi Indonesia masih akan bergairah, yield masih akan turun dan investor ritel masih berpotensi meraup capital gain bila hendak menjual ORI014 di pasar sekunder.

Di sisi lain, tuturnya, ada gejala menarik yang terjadi sejak tahun lalu ketika pemerintah memutuskan menetapkan kupon ORI flat terhadap yield SUN tenor yang sama di pasar sekunder. Gejala tersebut yakni berkurangnya investor ritel yang melepas ORI di pasar sekunder.

ORI013 yang diterbitkan tahun lalu memiliki kupon 6,6% yang tidak jauh berbeda dari yield SUN tenor yang sama tahun lalu. Setelah holding periode dibuka, kepemilikan investor ritel masih bertahan di atas 40%.

Padahal, di seri-seri ORI sebelumnya, ketika kuponnya lebih tinggi dari yield di pasar sekunder, kepemilikan investor ritel cenderung segera berkurang drastis setelah holding periode dibuka. Pasalnya, investor institusi segera memburu ORI tersebut sebab memiliki kupon premium yang sangat menarik.

“ORI013 kepemilikan ritel memang sudah relatif turun, tapi masih di 40-an persen. Biasanya ORI sebelumnya kepemilikan ritel di bawah 36%. Padahal kita jual ORI ini di pasar primer 100% untuk ritel,” katanya.

Penerbitan ORI013 tahun lalu memang sedikit di bahwa target Rp20 triliun, yakni Rp19,69 triliun. Untuk ORI014 tahun ini, pemerintah menerima komitmen yang lebih rendah para agen penjual, yakni senilai Rp13,4 triliun.

“Kalau kita lihat memang secara nominal menurun, tetapi secara persentase kepemilikan yang masih dipegang investor ritel meningkat. Jadi, kami anggap itu bagus kualitasnya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ORI014

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup