ISSP Siapkan Obligasi Valas US$250 Juta Untuk Refinancing

Emiten produk baja PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. atau Spindo berencana menerbitkan obligasi valuta asing (valas) paling banyak US$250 juta untuk membayar utang jangka pendek atau refinancing.
Rivki Maulana | 30 Maret 2017 15:50 WIB
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika I Gusti Putu Suryawirawan bersama Direktur Utama PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk Ibnu Susanto meninjau lokasi pabrik baru dan pengoperasian mesin-mesin baru di PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, di Karawang 17 November 2015. - Bisnis.com

Bisnis.com, MANADO - Emiten produk baja PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. atau Spindo berencana menerbitkan obligasi valuta asing (valas) paling banyak US$250 juta untuk membayar utang jangka pendek atau refinancing.

Johannes Edward, Head of Investor Relation Spindo, mengatakan rencana penerbitan obligasi valas bakal dilakukan pada April atau Mei 2017. Pada awalnya, Spindo berniat menerbitkan obligasi pada kuartal I/2017. "Kami mundur sedikit karena kemarin memantau kondisi pasar modal dunia pasca pemilu Belanda dan kenaikan suku bunga Fed," jelasnya kepada Bisnis.com, Kamis (30/3/2017).

Dia menjelaskan, perusahaan bersandi saham ISSP itu telah mengantongi tiga perusahaan sekuritas yang berpeluang menangani penerbitan obligasi perseroan. Sebelumnya, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyematkan peringkat di "IdnA-" untuk ISSP dan obligasi yang akan diterbitkan.

Dalam laporannya, Fitch menyebut peringkat yang disematkan mencerminkan posisi Spindo yang kuat di pasar pipa baja nasional. "Perusahaan ini bisa menjaga pertumbuhan penjualan dan pendapatan kendati pasokan baja global melimpah," tulis Fitch

Berdasarkan laporan keuangan Spindo per September 2016, total utang jangka pendek mencapai Rp2,42 triliun. Jumlah tersebut berasal dari delapan kreditur ; PT Bank Central Asia Tbk. mengucurkan kredit terbesar sebanyak Rp1,56 triliun.

Adapun, kreditur lain yang turut mengucurkan kredit ke Spindo antara lain Eximbank Indonesia, Bank ICBC Indonesia, Bank Danamon, Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, dan HSBC. Tingkat bunga yang dikenakan berkisar 2,25%-11,5%.

Di sisi lain, tahun ini Spindo membidik pertumbuhan penjualan di kisaran 20%-30% dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp3,3 triliun (tidak diaudit). Johannes menerangkan, perseroan berpeluang meningkatkan efisiensi berkat harga bahan baku yang lebih murah.

Untuk diketahui, JFE Steel Corporation dan Marubeni-Itochu Steel Inc (MISI) baru saja mengambil alih 2,2% saham Spindo. "Dengan kapasitas kami pasti mendapatkan 'previlegge' terhadap pembeli lain dengan kapasitas yang lebih kecil," jelasnya.

Menurut Johannes, akuisisi saham perseroan oleh JFE Steel Corporation dan MISI diharapkan menjadi awal dari aliansi yang lebih erat. Dia tak menampik penyertaan modal JFE Steel dan MISI di Spindo bisa lebih besar ke depan.

Sebelum berkongsi dengan JFE Steel, Spindo yang berdiri pada 1971 pernah menjalin hubungan bisnis dengan salah satu perusahaan pendahulunya, yakni Kawasaki Steel yang memasok baja lembaran lewat distribusi MISI yang saat itu merupakan bagian dari Itochu Corporation.

Saat ini, Spindo memprodusksi sekitar 350.000 ton pipa dan lembaran paja per tahun untuk kebutuhan bahan baku suku cadang sepeda motor dan komponen konstruksi.

Tag : issp
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top