Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

HM Sampoerna (HMSP) Anggarkan Belanja Modal Rp1 Triliun

Raksasa rokok berkapitalisasi pasar Rp442 triliun, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. menganggarkan belanja modal periode 2017 senilai Rp1 triliun untuk keperluan perawatan tanpa rencana ekspansi.
Pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/5/2016)./Antara
Pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/5/2016)./Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Raksasa rokok berkapitalisasi pasar Rp442 triliun, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. menganggarkan belanja modal periode 2017 senilai Rp1 triliun untuk keperluan perawatan tanpa rencana ekspansi.

Paul Janelle, Direktur Utama HM Sampoerna, mengatakan anggaran belanja modal (capital expenditure/Capex) yang dirogoh dari kocek internal itu ditargetkan sama dengan tahun ini.

"Kami tidak ada rencana ekspansi, belanja modal hanya untuk perawatan sebesar Rp1 triliun," katanya akhir pekan lalu.

Anggaran belanja modal tahun ini telah terserap sekitar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun per kuartal III/2016. Penggunaan Capex tahun ini mayoritas untuk perawatan mesin, dan dukungan operasional bisnis lainnya.

Emiten bersandi saham HMSP tersebut menargetkan perolehan laba sebelum bunga dan pajak (earning before interest and tax/EBIT) dapat tumbuh double digit hingga akhir 2016. Hingga September 2016, pendapatan yang diraup perseroan tumbuh 7,3% year-on-year menjadi Rp70,27 triliun dari Rp65,52 triliun.

Manajemen mencatat telah menaikkan harga jual rokok sebesar 11% sejak awal 2016 seiring penaikkan cukai tembakau 15%. Peningkatan harga jual rokok itu lebih tinggi dari rerata industri yang mencapai 10,3%.

Pemerintah telah mematok kenaikan cukai tembakau sebesar 10% pada periode 2017. Namun, dia enggan memerkirakan penaikkan harga jual rokok perseroan pada tahun depan.

Korporasi dengan mayoritas saham digenggam oleh Philip Morris International Inc. (PMI) itu mengakui masih kesulitan untuk meningkatkan penjualan rokok segmen sigaret kretek tangan (SKT). Market share rokok SKT perseroan turun 0,8% hingga kuartal III/2016 menjadi 38,2%.

Volume penjualan rokok pada kuartal III/2016 mencapai 72,3 miliar batang atau turun 13,5% dari kuartal sebelumnya dan terkoreksi 4,15% dibandingkan dengan 2015.

Pangsa pasar rokok mesin masih mendominasi total volume penjualan rokok dan produk rokok mesin HMSP sebesar 34,7% pada kuartal III/2016, naik tipis dari 34,2% pada kuartal II/2016. Namun, market share HMSP terkontraksi dari sembilan bulan pada 2015 yang mencapai 35,1%.

"Penurunan SKT karena banyak orang pindah dari rokok tanpa filter menjadi sigaret kretek mesin dengan filter, juga karena kenaikan cukai tembakau," tuturnya.

Hingga kuartal III/2016, emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih Rp9 triliun atau tumbuh 19,5% yoy. Capaian itu mewakili 76,4% proyeksi konsensus sepanjang tahun.

Sementara itu, rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan yang digelar akhir pekan lalu, mengangkat bos baru Mindaugas Trumpaitis sebagai presiden direktur perseroan, menggantikan Paul Janelle.

"Saya akan pindah ke Swiss untuk mengurus bisnis PMI di Eropa. Saya yakin dengan pengarahan dan pengalaman Mindaugas akan mampu menaikkan dan mengembangkan HMSP ke depan," kata Paul.

Selain mengangkat Trumpaitis, RUPSLB menyetejui pengangkatan Michael Scharer sebagai direktur operasional menggantikan Peter Haase yang memasuki masa pensiun.

Trumpaitis telah bekerja di Philip Morris selama 18 tahun. Tiga tahun terakhir, dia memimpin Rothmans, Benson & Hedges Inc, yang merupakan afiliasi PMI di Kanada.

Sebelumnya, Tumpaitis pernah bertugas sebagai managing director di afiliasi PMI di Meksiko. Dia juga berpengalaman mengelola bisnis PMI di negara-negara Baltik dan Finlandia.

Dia memiliki latar belakang pendidikan sarjana dan master dari Klaipedia University Lithuania. Dia juga memiliki gelar Executive MBA dari INSEAD Perancis.

Adapun, Scharer memulai karir di PMI Jerman pada 1997 dan memiliki berbagai pengalaman di bidang operasional pada sejumlah lokasi usaha PMI. Scharer sebelumnya bertugas di pusat riset dan pengembangan PMI Neuchatel Swiss.

Scharer sangat familiar dengan Indonesia karena dia pernah menjabat sebagai director technical services Asia untuk Sampoerna. Dia juga pernah menjabat sebagai divisi operasional pada PMI Malaysia.

Dia memiliki gelar master di bisang Teknik Mesin dan Manajemen Bisnis. Gelar itu diperoleh dari Technical University Vienna Austria.

Pada kesempatan terpisah, analis PT Bahana Securities Michael W. Setjoadi, memerkirakan bahwa HMSP hanya butuh menaikkan harga jual rokok sebesar 8% untuk penyesuaian tarif cukai pada 2016. Namun, perseroan telah memutuskan untuk mengerek harga jual rokok sebesar 11,3%.

"Hal itu membuat target pertumbuhan kinerja operasional hingga double digit bisa dicapai. Margin laba bersih juga meningkat 40 bps secara tahunan," kata dia.

Dia menilai, pertumbuhan laba bersih perseroan yang sangat kuat terjadi lantaran pendapatan bunga jauh melampaui perolehan dari rights issue. Laba per September yang diraup perseroan sejalan dengan estimasi Bahana Securities dan lebih tinggi dari konsensus pada sisi pendapatan bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Sukirno
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper