Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARGA MINYAK 24 OKTOBER: Keinginan Irak Paksa WTI Tergelincir dari Zona Hijau

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak Desember melemah 0,59% atau 0,30 poin ke US$50,55 per barel pada pukul 11.13 WIB, setelah dibuka dengan pergerakan stagnan di posisi 50,85.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Oktober 2016  |  12:05 WIB
Pertambangan minyak di lepas pantai - Antara
Pertambangan minyak di lepas pantai - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga minyak mentah dunia tergelincir dari penguatannya pada perdagangan siang ini, Senin (24/10/2016), setelah Irak menyatakan keinginan untuk dibebaskan dari langkah pemangkasan produksi serta seiring meningkatnya tingkat pengeboran AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak Desember melemah 0,59% atau 0,30 poin ke US$50,55 per barel pada pukul 11.13 WIB, setelah dibuka dengan pergerakan stagnan di posisi 50,85.

Pada saat yang sama, patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Desember melemah 0,50% atau 0,26 poin ke level US$51,52, setelah dibuka naik 0,21% atau 0,11 poin di level 51,89.

Seperti dilansir Reuters hari ini, penurunan harga minyak merespon pernyataan Irak untuk dibebaskan dari segala bentuk kesepakatan pemangkasan produksi oleh organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang direncanakan akan diputuskan pada pertemuan tanggal 30 November.

OPEC berencana mengurangi produksinya menjadi kisaran 32,5 juta – 33 juta barel per hari (bph) atau turun dari 33,39 juta bph pada September.

Hal tersebut pastinya akan sulit tercapai apabila Irak, negara penghasil minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi dalam OPEC, tidak turut berpartisipasi.

“Pernyataan Irak akhir pekan kemarin bahwa negara tersebut mungkin tidak akan turut serta dalam kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi dapat menyebabkan harga minyak tertekan pada sesi perdagangan hari ini,” jelas ANZ bank.

Faktor lain yang turut menekan pasar adalah meningkatnya aktivitas pengeboran minyak AS pekan lalu hingga mencapai kenaikan pertama sebesar dua digit sejak Agustus.

Berlanjutnya penguatan dolar, yang dapat menurunkan permintaan akibat lebih tingginya nilai pembelian bahan bakar bagi negara yang menggunakan mata uang lain, juga telah membebani pasar.

Indeks dolar AS yang memantau pergerakan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,10% atau 0,095 poin ke level 98,790 pada pukul 11.14 WIB.

Meskipun harga minyak bergerak melemah, para Analis berpendapat bahwa pasar minyak, yang telah dihantui oleh kelebihan suplai selama dua tahun, mungkin dapat kembali diseimbangkan oleh produksi dan konsumsi.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, minyak WTI kontrak Desember ditutup menguat 0,43% atau 0,22 poin ke US$50,85, sedangkan patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Desember berakhir menguat 0,78% ke US$51,78 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak brent wti
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top