Siapa Saja Asing yang memarkir Dananya di SBN? Ini Kata Menteri PPN

Kepemilikan surat berharga negara (SBN) oleh asing sepanjang tahun ini sudah mencapai Rp659,03 triliun atau naik 18% dibandingkan akhir tahun lalu.
Riendy Astria | 02 Agustus 2016 09:48 WIB
Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA— Kepemilikan surat berharga negara (SBN) rupiah oleh asing sepanjang tahun ini sudah mencapai Rp659,03 triliun atau naik 18% dibandingkan akhir tahun lalu.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, nilai kepemilikan asing pada SBN sudah mencapai Rp659,03 triliun (per Juli 2016). Bila dibandingkan dengan pencapaian akhir Desember 2015 yang senilai Rp558,52 triliun, artinya sudah masuk dana senilai Rp100,51 triliun dari asing sepanjang tahun ini.

Kenaikan kepemilikan asing hingga 18% pada SBN membuat posisi kepemilikan asing di SBN juga ikut naik menjadi 39,39% (per Juli 2016), sedangkan pada akhir Desember 2015 sekitar 38,21%. Semakin tingginya porsi asing dalam kepemilikan SBN dinilai rentan lantaran pasar surat utang akan lebih dipengaruhi oleh faktor global yang memang sulit diprediksi.

Namun, sebenarnya siapakah investor asing yang masuk ke pasar SBN dalam negeri? Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan kepemilikan asing di pasar surat utang Indonesia memang sudah mencapai 39%. Bila dilihat secara standard internasional, memang dinilai rentan atau berisiko.

“Namun, siapakah yang menjadi 39% ini? Apa benar-benar berisiko? Saya katakan, sebagian besar adalah murni asing, yakni bank sentral negara-negara lain yang membeli surat utang Indonesia, mereka nvestor jangka panjang, long term investor, mayoritas dari 39% itu aman,” jelasnya di sela-sela acara Investor Day 2016 yang berlangsung sejak 1 Agustus-4 Agustus 2016 di Jakarta.

Selain bank sentral negara-negara asing yang memang SBN, investor hot money juga turut serta. Investir tersebut sebagian besar memiliki base di Singapura.

“Setelah itu fokus pada hot money, mayoritas base di Singapura. Oke Singapura negara maju, lantas siapa orang Singapura yang tertarik di SUN? Kebanyakan orang Indonesia sendiri atau SPV-SPV-nya sendiri, di mana mereka itu diharapkan jadi bagian repatriasi. Jadi kebanyakan memang long term horizon,” tambahnya.

Tag : surat utang negara, surat berharga negara
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top