AKSI BOS DJARUM: Kisah Orang Terkaya Indonesia Garap Bisnis Menara

Ranumnya keuntungan sewa menara membuat super taipan Budi & Robert Hartono sebagai pemilik Grup Djarum, semakin menancapkan kuku pada bisnis tower melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA--Ranumnya keuntungan sewa menara membuat super taipan Budi & Robert Hartono sebagai pemilik Grup Djarum, semakin menancapkan kuku pada bisnis tower melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk.

Lucky Bayu Purnomo, analis PT Danareksa Sekuritas, mengatakan dalam tiga tahun terakhir sektor teknologi informasi telah menjadi tulang punggung perekonomian melalui infrastruktur. Grup Djarum menangkap peluang yang menjanjikan pada bisnis menara telekomunikasi.

"Menghadapi masyarakat ekonomi Asean, aksi merger dan akuisisi marak terjadi. Grup Djarum ingin mencuri start sebelum adanya merger dan akuisisi di sektor TI," katanya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (13/4/2016).

Lebih jauh, dia menilai Grup Djarum akan menjadi pemain mayoritas dalam bisnis sewa menara telekomunikasi. Setidaknya, penguasaan pada bisnis tower itu akan membuat nilai buku (book value) perusahaan kian meroket.

Nantinya, Grup Djarum dinilai dapat menjual kepemilikan dalam emiten berkode TOWR tersebut, atau bisa juga membuat diversifikasi usaha. Terpenting, perusahaan milik orang terkaya di Tanah Air itu menguasai aset menara base transceiver station (BTS)

Prospek bisnis sewa menara, kata dia, terbilang sangat menguntungkan. Dahulu, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) dimiliki oleh Sofyan Wanandi yang kemudian dilego kepada PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) milik Edwin Soeryadjaya bersama Sandiaga Salahuddin Uno.

Tak lama setelah dicaplok Grup Saratoga, Tower Bersama pun melantai di pasar modal dengan kode saham TBIG. Harga sahamnya terus meroket dan menjadi potret nyata akan minat investor terhadap saham perusahaan menara.

Lucky memerkirakan, bisnis sewa menara ke depan masih sangat menjanjikan terutama lantaran dukungan kondisi geografis Indonesia, serta target digenjotnya infrastruktur oleh pemerintah. Setidaknya, bagi investor, saham emiten menara masih menarik dalam 2-3 tahun ke depan.

"Adanya private placement yang dilakukan oleh TOWR sebenarnya Grup Djarum bertujuan untuk exit perlahan. Tapi, kalau kinerja fundamental masih bagus, mereka masih ingin hold," tuturnya.

Setali tiga uang, analis PT First Asia Capital David Setyanto, menilai bisnis sewa menara yang terbilang menguntungkan membuat Grup Djarum melalui TOWR menambah modal bagi anak usahanya yang bergerak di sektor tower, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

"Investasi bisnis menara itu besar. Yang perlu diwaspadai adalah nilai tukar dan regulasi, serta iklim kompetisi di sektor tersebut," katanya secara terpisah.

Dalam prospektus yang dirilis PT Sarana Menara Nusantara Tbk., Rabu (13/4/2016), disebutkan perseroan akan menerbitkan 1,02 miliar saham baru yang mewakili 10% dari modal disetor melalui mekanisme tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau private placement.

Harga saham baru dipatok Rp4.105 per lembar. Bila seluruh saham baru diserap oleh investor, total dana yang akan dikantongi TOWR mencapai Rp4,18 triliun.

Dana yang diperoleh dari aksi private placement itu akan digunakan untuk suntikan modal bagi anak usaha perseroan, Protelindo.

Dana itu nantinya akan digunakan oleh Protelindo untuk membangun dan/atau membeli menara telekomunikasi dan/atau melakukan investasi pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa penunjang telekomunikasi dan/atau melakukan pelunasan lebih awal atas sebagian utang Protelindo kepada kreditor.

Memang, kepemilikan menara TOWR menjadi paling banyak dibandingkan dengan para pesaingnya. Terakhir kali, TOWR memborong 2.500 unit menara milik PT XL Axiata Tbk. (EXCL) melalui Protelindo senilai Rp3,56 triliun.

Setelah aksi private placement, pemegang saham Sarana Menara Nusantara terdiri dari PT Sapta Adhikari Investama (29,74%), publik (61,17%), investor (9,09%). Akan tetapi, perseroan tidak menyebutkan investor yang bakal menyerap saham baru yang diterbitkan.

Kas dan setara kas setelah private placement mencapai Rp7,17 triliun dari Rp2,98 triliun. Sedangkan, aset Rp25,6 triliun, liabilitas Rp13,73 triliun, dan ekuitas Rp11,86 triliun.

Seperti diketahui, Sarana Menara dimiliki oleh Grup Djarum yang digenggam oleh Robert Budi Hartono dan Michael Hartono dengan kekayaan US$15,4 miliar setara dengan Rp207,9 triliun. Keluarga Hartono bertahun-tahun tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Sukirno
Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper