Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Audit Selesai, Begini Kinerja Keuangan Tower Bersama Infrastructure (TBIG)

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengumumkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2015.
PT Tower Bersama Infrastructure. Tbk/Ilustrasi-JIBI
PT Tower Bersama Infrastructure. Tbk/Ilustrasi-JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk ("TBIG") mengumumkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2015.

TBIG berhasil mencatatkan pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp3.421 miliar dan Rp2.911 miliar untuk periode satu tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015.

Marjin EBITDA Perseroan meningkat menjadi 85,1% untuk 2015 dibandingkan dengan 82,2% untuk 2014. Jika hasil triwulan IV/2015 disetahunkan, total pendapatan perseroan mencapai Rp3.520 miliar dan EBITDA mencapai Rp3.036 miliar.

Per 31 Desember 2015, TBIG memiliki 19.796 penyewaan dan 12.389 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 11.389 menara telekomunikasi, 936 shelter-only, dan 64 jaringan DAS.

Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 18.796, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,65.

CEO TBIG Hardi Wijaya Liong menjelaskan sepanjang 2015, perusahaan bertumbuh secara organik sebanyak 675 menara telekomunikasi dan 803 kolokasi ke dalam portofolio. Meskipun bertumbuh sebanyak 1.488 penyewaan secara organik tahun ini, penambahan penyewaan bersih perseroan lebih rendah, terutama dikarenakan keputusan untuk tidak mengakui penyewaan Bakrie Telecom sejak awal 2015.

Meskipun begitu, ucapnya, kualitas kredit dari penyewaan perseroan meningkat dan marjin EBITDA untuk 2015 juga meningkat karena efisiensi dan restrukturisasi perjanjian induk dengan operator yang terkait dengan penyaluran penuh biaya listrik kepada operator.

“Restrukturisasi ini telah mengurangi risiko perusahaan terhadap fluktuasi biaya listrik,” ucap Hardi, dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (23/3/2016).

Per 31 Desember 2015, lanjutnya, total pinjaman (debt) Perseroan, di mana pinjaman dalam dolar AS yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah Rp16.206 miliar dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp8.588 miliar.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp296 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp15.910 miliar dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) Perseroan menjadi Rp8.292 miliar. 

Rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA triwulan IV yang disetahunkan adalah 2,7x, dan rasio pinjaman bersih (net debt) terhadap EBITDA triwulan IV yang disetahunkan adalah 5,2x dimana perusahaan masih memiliki ruang untuk menggunakan pinjaman tambahan berdasarkan covenant yang disyaratkan oleh fasilitas bank dan surat utang perusahaan.

Helmy Yusman Santoso, Chief Financial Officer TBIG mengklaim perseroan berhasil mengakses pasar obligasi berdenominasi US$ dan pinjaman bank di 2015 ketika perusahaan berhasil menerbitkan surat utang dengan bunga terendah untuk tenor 7 tahun yang dikeluarkan oleh perusahaan Indonesia (non-BUMN).

Selain itu, 3 kali oversubscribed untuk fasilitas bank kami yang memiliki tingkat suku bunga LIBOR + 200 bps dengan tenor 5,5 tahun bullet. "Kami dan kreditur kami merasa nyaman dengan tingkat leverage kami karena kami memiliki kontrak jangka panjang dari operator yang terjamin ditambah dengan kebijakan lindung nilai yang cermat.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper