Emiten Lahan Industri: Menanti Efek Stimulus Pemerintah

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu sebesar 4,78% merupakan level terendah sejak 2009. Segendang sepenarian, penjualan lahan industri yang sangat terkait dengan penanaman modal asing maupun domestik turut terseok-seok.
Rivki Maulana | 02 Maret 2016 19:25 WIB
Penyederhanaan perizinan juga dinilai akan memperbaiki pola investasi di Indonesia sehingga akan mendorong penanaman modal asing. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu sebesar 4,78% merupakan level terendah sejak 2009. Segendang sepenarian, penjualan lahan industri yang sangat terkait dengan penanaman modal asing maupun domestik turut terseok-seok.

Perusahaan konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia mencatat tingkat permintaan lahan industri pada tahun lalu tercatat 67%, atau merupakan yang terendah dalam 10 tahun terakhir.

Berdasarkan riset Cushman, tahun ini penjualan lahan industri diestimasi mencapai 300 hektare, turun dari realisasi sepanjang 2015 seluas 350 hektare.

Para bandar lahan industri pun cenderung konservatif menatap Tahun Monyet Api. Target penjualan tahun ini pun dipatok relatif sama dengan tahun lalu karena dampak dari paket stimulus ekonomi diperkirakan tidak terjadi dalam waktu dekat.

PT Puradelta Lestari Tbk.  (DMAS), sebagai contoh, menargetkan penjualan lahan sebesar 50 hektare - 60 hektare, sedangkan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) memasang target 30 hektare.

Emiten lain, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) memproyeksi penjualan lahan bisa mencapai 30 hektare, naik dari realisasi sepanjang tahun lalu sebesar 10,4 hektare.

Lantas, bagaimana prospek saham emiten lahan industri dengan target yang konservatif tersebut?

Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan ekspansi pelaku industri tahun ini akan  konservatif karena masih menunggu pemulihan pertumbuhan ekonomi.

Terlebih, faktor perlambatan ekonomi China dan tren harga komoditas yang rendah juga masih menjadi pertimbangan calon investor yang tengah berburu lahan industri.

"Mereka [pelaku industri] juga masih punya ekspektasi bunga akan turun lagi. Kalau BI Rate bisa turun 75 bps-100 bps, itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Mereka juga tidak akan menahan ekspansi," ujarnya.

Hans memproyeksi jika pertumbuhan ekonomi mulai pulih, transaksi penjualan lahan industri akan mulai marak pada semester II/2016. Realisasi dari kemudahan rencana kemudahan investasi juga diperkirakan bisa menjadi katalis bagi penjualan lahan industri.

Sebagaimana diketahui, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meluncurkan program kemudahan investasi langsung konstruksi untuk 14 kawasan industri.

Proses izin investasi melalui KILK hanya berlangsung 3 jam dan investor bisa memulai konstruksi setelah izin pembangunan disetujui.

Data BKPM menunjukkan, tren penanaman modal asing (FDI) di Jawa Barat turun sejak 2013 kendati tren secara nasional meningkat. Jawa Barat merupakan lokasi lahan industri utama di Indonesia.

Sejumlah emiten utama juga bermain di sini, yakni Bekasi Fajar Industrial Estate, Puradelta Lestari, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk., dan Surya Semesta Internusa.

Data BKPM merekam, sepanjang 2015 FDI di Jawa Barat turun 13,7% dibandingkan dengan 2014. Padahal penanaman modal asing secara nasional naik 19,2%. Alhasil, porsi FDI Jawa Barat juga tergerus dari 23% pada 2014 menjadi 19,6% pada tahun lalu.

Sanni Satrio Dwi Utomo, analis Bahana Securities, mengatakan pandangan Bahana masih netral untuk sektor lahan industri. Dalam riset yang dikutip Bisnis, permintaan lahan industri yang lemah turut menyeret kinerja emiten yang murni bermain di lahan industri seperti Bekasi Fajar.

BISNIS LAIN

Sebagian emiten, justru fokus mengalihkan ke bisnis lain seperti pembangkit listrik, konstruksi, maupun proyek residensial dan komersial.
Kendati demikian, di sisi lain Bahana menilai pembangunan infrastruktur akan menguntungkan emiten karena harga jual bisa terkerek sehingga margin turut terdongkrak.

Dari tiga emiten yang sudah mengungkapkan target penjualan lahan tahun ini, Bahana merekomendasikan BUY untuk DMAS dan SSIA, sedangkan REDUCE direkomendasi untuk BEST.

Sementara itu, DBS Vickers Securities memandang negatif sektor lahan industri tahun ini. Edward Ariadi Tanuwijaya, analis DBS Vickers, dalam risetnya mengungkapkan para pengembang lahan industri akan mencatat kinerja yang lemah seiring kelesuan di sektor otomotif.

"Memang akan pulih, tapi FDI akan tetap rendah," ujarnya.

Colliers International mencatat porsi pembelian lahan industri oleh investor di sektor otomotif sepanjang tahun lalu mencapai 26%, anjlok dibandingkan posisi 2013 sebesar 55%.

Edward menjelaskan sedikitnya ada dua faktor yang membuat lahan industri masuk zona merah. Pertama, pasokan lahan strategis kian terbatas. Kedua, permintaan lahan melambat.

Namun, Edward menilai beleid pengupahan yang baru bisa membuat kepastian berusaha di Indonesia semakin terjamin, walaupun diprotes oleh elemen buruh. Kebijakan ini secara tidak langsung akan menguntungkan pengembang kawasan industri.

Penyederhanaan perizinan juga dinilai akan memperbaiki pola investasi di Indonesia sehingga akan mendorong penanaman modal asing.

Terobosan ini juga didukung langkah pemerintah menerapkan kebijakan "Satu Peta" yang akan menjadi acuan untuk perizinan dan peruntukan kawasan.

Dari emiten yang berada di bawah coverage DBS, SSIA direkomendasikan BUY dengan target harga Rp695 sedangkan BEST direkomendasikan Fully Valued—imbal hasil negatif lebih dari 10% dalam 12 bulan ke depan—dengan target harga Rp230.

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (2/3/2016)

Tag : stimulus ekonomi, emiten industri barang konsumsi
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top