Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

DIVESTASI KEPEMILIKAN: Akankah Rencana Rajawali Jadi Kenyataan?

Setelah Grup Rajawali menyampaikan rencana divestasi kepemilikan saham di tiga perusahaan sekaligus pada pertengahan 2015, hingga kini niatan itu belum kunjung terealisasi.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 06 Januari 2016  |  21:30 WIB
DIVESTASI KEPEMILIKAN: Akankah Rencana Rajawali Jadi Kenyataan?
Peter Sondakh - Forbes
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah Grup Rajawali menyampaikan rencana divestasi kepemilikan saham di tiga perusahaan sekaligus pada pertengahan 2015, hingga kini niatan itu belum kunjung terealisasi.

Pada Juni 2015, Rajawali mengumumkan akan melepas 37% saham di PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) kepada Felda Global Ventures Holdings Berhad (FGV) dengan nilai mencapai US$680 juta.

Padahal, baru sekitar enam bulan sebelumnya perusahaan investasi milik Peter Sondakh itu masuk ke BWPT lewat aksi rights issue berukuran jumbo sebesar Rp11,11 triliun.

Pada waktu bersamaan, Rajawali juga menyatakan bakal menjual seluruh saham di PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI) dan PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META).

Di TAXI, perusahaan itu menguasai 51% saham. Adapun kepemilikan saham di META sebanyak 21%. Saat itu, Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setyawan menyatakan pihaknya ingin berkonsentrasi di bisnis inti perusahaan yaitu properti, perkebunan, dan pertambangan.

“Oleh karena itu, yang non-core business kami jual dan nanti dananya digunakan untuk biayai pengembangan di bisnis inti,” terangnya. Ini adalah alasan yang sama dengan yang disampaikan Rajawali ketika melepas kepemilikan 56,96% saham, dengan nilai Rp3,35 triliun, di PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA) kepada British American Tobacco (BAT) pada 2009.

Bisnis properti Peter memang cukup besar. Tidak hanya di Indonesia, antara lain lewat Hotel Four Seasons, gedung perkantoran Capital Place, dan St. Regis Jakarta, tapi juga di negeri tetangga. Di Malaysia, proyek propertinya mencakup St. Regis Langkawi Hotels & Resorts, Langkawi International Convention Centre, dan Hotel Sheraton Imperial.

Sementara, di sektor pertambangan bisnisnya antara lain dijalankan oleh PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT), PT Internasional Prima Coal, dan PT Archi Indonesia. Dua perusahaan pertama bergerak di batu bara, sedangkan Archi adalah perusahaan pertambangan emas.

Archi sempat nyaris melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir 2014, tapi penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO) karena kondisi pasar yang lesu.

Singkat cerita, rencana Rajawali menjual saham ketiga emiten tadi masih menemui tembok penghalang. Niatan mendivestasi TAXI gagal karena PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG), calon investor baru, memutuskan mundur. Alasannya, kondisi pasar tidak mendukung. Padahal, jangka waktu proses negosiasi telah melampaui jadwal semula.

Pasca keputusan itu, harga saham TAXI anjlok dan sempat disuspen oleh otoritas bursa. FGV pun dikabarkan sempat meminta harga akuisisi diturunkan, meskipun tidak menyebutkan alasan jelas.

Masalah harga sebenarnya sudah menuai protes di Negeri Jiran lantaran dianggap terlalu tinggi. Tidak hanya para analis yang menyoroti rencana tersebut, parlemen Malaysia pun dibuat gerah. Jangka waktu due diligence juga molor berkali-kali.

Dari yang awalnya dijadwalkan rampung Agustus, kemudian mundur ke Oktober dan diperpanjang lagi hingga November. Pada akhir November, kedua perusahaan mengungkapkan masa Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) tidak diperpanjang.

Tetapi, para pihak menyatakan hal ini bukan berarti rencana transaksi batal dan tetap ngotot melanjutkannya. Darjoto menegaskan FGV, perusahaan pelat merah Malaysia, tetap berniat berinvestasi di BWPT walaupun mesti menggunakan skema yang berbeda. Jika awalnya seluruh 37% saham bakal diserap FGV, maka kemungkinan nanti perusahaan itu hanya mengambil porsi di bawah 10%.

Sementara, lebih dari 27% saham lainnya diambil oleh Felda Investment Corp. Sdn. Bhd. (FIC) yang merupakan anak usaha FGV. Ditanya apakah transaksi ini bakal tetap dijalankan sebelum tahun berganti, Darjoto mengatakan pembahasannya sedang difinalisasi.

Para pihak, lanjutnya, mengusahakan agar transaksi itu rampung sesegera mungkin. Jawaban mengambang pun diberikan terkait transaksi META. “Masih dalam proses,” ucap Darjoto lewat pesan singkat kepada Bisnis, akhir bulan lalu.

Dia juga tidak menjawab apakah—jika memang benar masih berlangsung—rencana itu akan tetap dilaksanakan. Tidak dijelaskan pula proses apa yang dimaksud—terkait harga, masalah legal, atau klausul lainnya. Peminat META sebelumnya disebut terdiri dari dua pihak, kelompok yang dipimpin PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) serta PT Astra tel Nusantara yang meru pa kan anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII).

Namun, belum jelas pula per kem-bangannya hingga saat ini. Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja masih belum bersedia berkomentar. Sementara, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) ASII pada November 2015, Astratel hanya mengatakan tidak ada rencana akuisisi lagi hingga pergantian tahun.

Terakhir, perusahaan itu mengakuisisi 25% saham PT Trans Marga Jateng (TMJ) yang mengelola ruas tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 kilometer pada pertengahan 2015. Dengan dua rencana divestasi yang tidak berjalan sesuai ekspektasi, apakah niatan Rajawali menjual saham META akan terwujud?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peter sondakh rajawali group

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (6/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top