Pasar Saham 2016 Diperkirakan Masih Penuh Ketidakpastian

Pasar saham 2016 diramal masih sarat ketidakpastian meskipun spekulasi pengetatan moneter Amerika Serikat yang dua tahun terakhir menggoyang pasar keuangan Indonesia, telah direalisasikan.
Sri Mas Sari | 02 Januari 2016 22:03 WIB
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat dari kaca mata karyawan saat di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (18/8). - Bisnis Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pasar saham 2016 diramal masih sarat ketidakpastian meskipun spekulasi pengetatan moneter Amerika Serikat yang dua tahun terakhir menggoyang pasar keuangan Indonesia, telah direalisasikan.
 
Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada melihat perkembangan ekonomi China masih mencemaskan. Kendati mendesain secara sengaja moderasi ekonomi sejak 2010, Negeri Tirai Bambu itu ingin tetap menduduki posisi puncak pertumbuhan dunia.
 
Hasrat itu, kata Reza, bisa membuat Beijing sewaktu-waktu menurunkan suku bunga atau mendevaluasi kembali mata uangnya sekalipun Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu berjanji tidak akan mendevaluasi yuan lagi.
 
"Kita tidak tahu apakah komitmen itu bisa dipegang. Kalau China mendevaluasi kembali mata uangnya demi menjaga ekonominya agar tak terlalu melambat, maka pasar kita bisa kembali bergejolak," kata Reza saat dihubungi.
 
Sentimen global lainnya datang dari Uni Eropa yang masih diliputi perlambatan ekonomi, terutama dialami oleh negara-negara berkembang di kawasan itu. Bank sentral Uni Eropa (ECB) beberapa waktu lalu mengumumkan pelonggaran moneter masih perlu dilakukan oleh otoritas itu hingga waktu tertentu.
 
Beberapa negara di Benua Biru itu bahkan menyusul Yunani sebagai 'si sakit Eropa', seperti Finlandia, Italia, dan Portugal.
 
Reza mengatakan sentimen dari dalam negeri, seperti inflasi yang relatif stabil di kisaran 5%, tidak cukup bisa mengimbangi. Pasalnya, kata dia, inflasi yang rendah bisa jadi akibat pelemahan daya beli.
 
"Ketika itu terjadi karena pelemahan daya beli, artinya ada potensi perekonomian terus melambat, dan itu akan memberikan sentimen negatif ke pasar," tutur Reza.
 
Dia menyarankan agar pelaku pasar tetap antisipatif tahun depan dengan terus mencermati perkembangan kondisi makroekonomi, kinerja emiten, dan realisasi APBN.
 
"Jangan seperti 2015. Pelaku pasar sangat terpaku pada janji pemerintah," ujarnya.
 
NH Korindo memprediksi IHSG tahun depan bisa mencapai 5.100, dengan catatan realisasi belanja pemerintah mendekati rencana, kondisi makroekonomi stabil, dan pertumbuhan emiten membaik. Namun, jika ketiga hal itu tidak terpenuhi, tidak mustahil IHSG akan kembali ke kisaran 4.200-4.400.
 
Menurutnya, beberapa emiten yang masih menghadapi tantangan berat tahun depan, a.l. emiten otomotif karena belum ada kepastian tentang penurunan bunga kredit perbankan, emiten farmasi karena potensi pelemahan rupiah yang masih tinggi, dan emiten properti karena besarnya utang valas.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, pasar modal, krisis eropa, perlambatan china

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top