Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemesanan ORI 011 di Jabar Diyakini Meningkat

Volume pemesanan obligasi negara ritel seri ORI011 di Jawa Barat diyakini akan meningkat dalam masa penawaran 1-16 Oktober 2014 ini, sebagaimana peningkatan itu terjadi pada penjualan ORI009 dan ORI010.
Abdalah Gifar, Yanto Rachmat Iskandar
Abdalah Gifar, Yanto Rachmat Iskandar - Bisnis.com 06 Oktober 2014  |  13:39 WIB
Pemesanan ORI 011 di Jabar Diyakini Meningkat
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG--Volume pemesanan obligasi negara ritel seri ORI011 di Jawa Barat diyakini akan meningkat dalam masa penawaran 1-16 Oktober 2014 ini, sebagaimana peningkatan itu terjadi pada penjualan ORI009 dan ORI010.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan, volume penjualan di Jabar untuk ORI009 yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2015 tercatat sebesar Rp1,67 triliun, dan untuk ORI010 yang jatuh temponya 15 Oktober 2016 mencapai Rp3,05 triliun.

Untuk ORI011 yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2017, para agen penjual dari perusahaan sekuritas yang ada di Bandung meyakini volume penjualan akan kembali meningkat di Tanah Priangan.

Asep Saepudin, Branch Manager Bandung PT Trimegah Securities Tbk., mengemukakan pembelian ORI011 diprediksi akan mengalami lonjakan pada saat-saat penutupan penawaran 16 Oktober mendatang.

Menurut Asep, obligasi negara ritel ini masih menjadi salah satu instrumen investasi yang paling banyak peminatnya karena menawarkan bunga di atas deposito dengan besaran yang tetap serta dijamin pemerintah.

"Kami perkirakan akan sangat ramai mulai 14 Oktober hingga penutupan. Tetapi kalau yang melalui perbankan, bahkan beberapa di antaranya permintaannya sudah melebihi," katanya kepada Bisnis, Senin (6/10).

Sebagai salah satu agen penjual ORI11, Trimegah juga sudah mulai memasarkan produk ini ke beragam calon investor, antara lain pegawai negeri sipil (PNS), pensiunan, dan kalangan investor potensial lainnya.

“Biasanya [yang banyak membeli ORI] itu kelompok usia yang sudah matang dan memang membutuhkan kestabilan, bukan kelompok umur di bawah 45 tahun,” katanya.

Asep menuturkan pihaknya juga memasang target penjualan instrumen investasi ini. Akan tetapi, dia menolak menyebutkan nilai target penjualan perusahaannya.

Branch Manager Sentra Investasi Danareksa (SID) Bandung Maryadi Suwondo memandang dengan prospek investor yang tidak terlalu jauh berbeda dengan ORI seri sebelumnya, penjualan ORI011 akan tetap meningkat.

“Bisa hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Jadi nasabah existing [untuk produk ORI], nasabah yang sudah ada, tentunya bisa dimaksimalkan,” katanya.

Menurut dia, nasabah di perusahaannya yang sudah terbiasa membeli ORI, umumnya akan menambah portofolio investasinya di obligasi negara ritel dengan ORI seri terbaru.

Di samping mengoptimalkan penawaran kepada nasabah existing, Maryadi melanjutkan Danareksa akan terus melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada berbagai asosiasi dan institusi.

“Tentunya yang kami harapkan dari perseorangannya sebagai nasabah ritel. Akan ada pertemuan yang sifatnya mini gathering, 10-15 orang, tetapi punya multiplier effect ke yang lain,” tuturnya.

Untuk wilayah Bandung, dia menuturkan pihaknya menargetkan volume penjualan ORI011 sebesar Rp100 miliar. “Sekarang baru separo-nya lah. Semoga di sisa waktu bisa tercapai target itu.”

Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Bandung Gilman Pradana Nugraha menyatakan calon investor di Jabar relatif sudah familiar dengan instrumen investasi ORI dibandingkan dengan produk investasi lain.

Penjualan melalui 18 bank umum dan tiga perusahaan sekuritas, lanjutnya, turut meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap ORI011 karena masing-masing berlomba untuk menawarkan investasi ini.

“Sehingga pertanyaannya bukan lagi ORI itu apa? Tetapi menanyakan kapan ORI ditawarkan dan bagaimana ketentuan ORI yang baru, berapa besar pajaknya, dan sebagainya,” ujarnya.

Dia menyatakan persepsi di masyarakat telah terbangun obligasi negara ritel ini sebagai instrument investasi yang aman dan dijamin pemerintah, sehingga peluang pertumbuhan investasi ORI011 di Jabar masih sangat besar.

“Memang ada pertarungan atas dana dengan bank pemberi special rate yang walaupun telah dibatasi, [rate-nya] itu masih tinggi di atas tingkat kupon ORI. Tetapi hal itu tidak mengurangi potensi ORI,” ungkapnya.

Dengan tingkat return tetap sebesar 8,5% dan tenor selama tiga tahun, menurut Gilman, ORI memiliki keunggulan di mata calon investor dari sisi keamanan. “Karena tidak mungkin gagal bayar bunga kecuali kalau pemerintah bangkrut.”

Di sisi lain, Gilman berpandangan pihak perbankan pun kini telah semakin terbuka terhadap ORI karena dapat memanfaatkan penawaran instrumen investasi ini sebagai fee base income bagi banknya.

Adapun untuk penjulan ORI011, tiga perusahaan sekuritas yang bertugas menjadi agen penjualan mendapat jatah total sekitar Rp2 triliun, dengan rincian, Danareksa sebesar Rp1 triliun serta Sucorinvest dan Trimegah mendapat jatah masing-masing sekitar Rp500 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ori surat utang negara Obligasi Pemerintah
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top