Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banjir dan Kekeringan Pangkas Panen Jagung China

Produksi jagung China akan turun untuk pertama kali dalam 4 tahun akibat banjir dan kekeringan di sejumlah di provinsi penghasil jagung terbesar di negara itu sehingga mengurangi kelebihan pasok global dan rekor hasil panen di AS.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 November 2013  |  09:30 WIB
/JIBI/Maulana Surya
/JIBI/Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA—Produksi jagung China akan turun untuk pertama kali dalam 4 tahun akibat banjir dan kekeringan di sejumlah di provinsi penghasil jagung terbesar di negara itu sehingga mengurangi kelebihan pasok global dan rekor hasil panen di AS.

Produksi dari negara penghasil jagung terbesar kedua dunia itu turun 3,2% menjadi 199,1 juta ton, menurut SGS SA, perusahaan yang melakukan 302 wawancara di tujuh besar wilayah penghasil jagung pada September dan Oktober.

Perusahaan milik negara China, National Grain & Oils Information Center memperkirakan terjadi kenaikan 4,6% menjadi 215 juta ton. Adapun unit penelitian dari Departemen Pertanian AS memproyeksikan pertumbuhan 2,1% menjadi 210 juta ton.

Rendahnya hasil panen dan harga acuan yang turun 50% dari rekor yang ditetapkan pada 2012 menunjukkan pembeli China akan mengimpor maksimum 7,2 juta ton sebagaimana diizinkan berdasarkan kuota per tahun.

Kontrak jagung turun hingga ke level terendah dalam tiga tahun sehingga mengurangi pendapatan petani dari Brasil hingga Ukraina, tetapi menurunkan biaya bagi Tyson Foods Inc. dan perusahaan pakan ternak lainnya.

“Jelas ada spekulasi apakah proyeksi mengenai produksi China tidak tepat,” ujar Luke Mathews, seorang ahli strategi pada Commonwealth Bank of Australia di Sydney sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (6/11/2013).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung harga jagung china

Sumber : Bloomberg

Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top