Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger Matahari dengan Meadow direstui

 
Teguh Purwanto
Teguh Purwanto - Bisnis.com 20 September 2011  |  16:14 WIB
Bagikan

 

JAKARTA: Pemegang saham PT Matahari Departement Store Tbk menyetujui rencana penggabungan (merger) perseroan dengan PT Meadow Indonesia. Adapun pernyataan efektif diharapkan keluar pada 30 September 2011.
 
Corporate Secretary Matahari Departement Store Miranti Hadisusilo mengatakan dengan adanya penggabungan antara pemegang saham mayoritas dan anak usahanya itu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi perseroan dengan adanya penghapusan pembayaran royalti sejumlah merek milik Meadow Indonesia.
 
"Meadow kan nantinya melebur masuk ke Matahari Department Store, salah satu yang pertimbangan kami adalah pemakaian merek mereka. Setelah digabung maka tidak ada lagi pembayaran royaltI. Lagi pula kami mengurangi risiko. Nanti tidak ada lagi kemungkinan kami tidak boleh memakai merek mereka,” ujarnya hari ini.
 
Meskipun demikian, Miranti juga menyadari akan adanya peningkatan kewajiban kepada perseroan. Berdasarkan data perseroan disebutkan setelah penggabungan itu, pinjaman Meadow Indonesia dari PT Matahari Pacific sebesar Rp1 triliun serta bunga yang harus dibayar sebesar Rp112,04 miliar akan diambil alih oleh perseroan. 
 
Sementara itu, pinjaman dari perseroan kepada Meadow Indonesia sebesar Rp2,85 triliun beserta piutang bunga sebesar Rp329,42 miliar akan tereliminasi yang akan mengakibatkan jumlah aset perseroan akan turun. Namun Miranti menegaskan hal itu sudah menjadi pertimbangan dan tidak akan mengganggu kinerja perseroan.
 
"Dengan penggabungan itu, otomatis semua aktiva dan pasiva, termasuk kewajiban Meadow akan masuk ke kami. Jumlah kewajiban kami tentu akan naik, tetapi keuntungan setelah merger itu lebih besar, yakni terkait penggunaan merek menjadi milik kami, jadi kami tidak khawatir," ungkapnya.
 
Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan akhir tahun lalu, jumlah kewajiban perseroan tercatat sebesar Rp4,34 triliun yang terdiri dari kewajiban lancar sebesar Rp1,46 triliun dan kewajiban tidak lancar sebesar Rp2,87 triliun. Adapun penyesuaian jumlah kewajiban itu akan mulai digunakan pada laporan keuangan perseroan pada kuartal III/2011.
 
Dia juga menegaskan dengan adanya penggabungan itu tidak ada kepemilikan saham publik yang terdilusi sehingga jumlah saham yang beredar di publik tetap 1,85%. Pada perdagangan siang ini, harga saham emiten berkode LPPF berada pada level Rp2.700, tidak bergerak dari penutupan sebelumnya. (sut)
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top