Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

ADHI Bentuk Anak Usaha PT Adhi Commuter Property

PT Adhi Karya (Persero) Tbk akan memisahkan unit usaha atau spin off Departemen Transit Oriented Development dan Hotel perusahaan menjadi anak usaha baru PT Adhi Commuter Property (ACP)
Foto areal proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur./Bisnis-Nurul Hidayat
Foto areal proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur./Bisnis-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) Tbk akan memisahkan unit usaha atau spin off Departemen Transit Oriented Development dan Hotel perusahaan menjadi anak usaha baru PT Adhi Commuter Property (ACP).

Direktur SDM, Sistem dan Investasi PT Adhi Karya Tbk Agus Karianto mengatakan perusahaan melakukan spin off departemen transit oriented development (TOD) dan hotel setelah mendapatkan restu dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Kedua emiten berkode ADHI.

Spin-off atau pemisahan departemen TOD dan hotel dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi internal perusahaan.

Pasalnya, dengan dimulai dan penyelesaian konstruksi dan akan selesainya Light Rail Transit (LRT) akan menciptakan sentra baru kegiatan ekonomi di sekitar stasiun.

"Ini yang akan digarap oleh anak perusahaan yang dibentuk untuk spin off," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Kedua ADHI, Jumat (4/5/2018).

Dalam aksi spin-off ini, perusahaan akan menggunakan angka buku pada Desember 2017 senilai Rp1,9 triliun.

Nilai Rp1,9 triliun tersebut bukan dalam bentuk modal kerja, melainkan dalam bentuk tanah persediaan bukan aset. Tanah-tanah tersebut sudah dibeli untuk persediaan pengembangan TOD.

"Untuk tanah atas nama investasi Adhi Karya tidak disertakan dalam spin-off. Secara keseluruhan modal yang digunakan untuk spin-off berasal dari aset yang bukan dalam bentuk uang. Dalam perjalanannya, manajemen Adhi nanti akan menambahkan bila ekuitas pengembangan dibutuhkan," tutur Agus.

Direktur Keuangan ADHI Entus Asnawi mengatakan setelah resmi melakukan spin-off, anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk, yakni Adhi Commuter Property akan melaksanakan penawaran umum saham perdana (IPO) pada tahun depan.

Hal tersebut sehubungan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 52/2017 tentang Penggunaan Nilai Buku Atas Pengalihan dan Perolehan Harta dalam Rangka Penggabungan, Peleburan, Pemekaran, atau Pengambilalihan Usaha

"Mekanisme nilai buku dalam proses spin off (pemisahan) dimana dalam jangka waktu paling lambat 1 tahun setelah diterimanya persetujuan DJP. Ada kewajiban perusahaan hasil spin-off, harus IPO tahun depan," katanya.

Selain itu, lanjut Entus, tidak terdapat pengalihan status kepegawaian dari pegawai tetap Departemen TOD dan Hotel atas pelaksanaan spin-off tersebut.

Lebih lanjut lagi, perusahaan akan melakukan IPO anak usaha Adhi Persada Gedung pada akhir tahun ini dengan porsi saham yang dilepas mencapai 30%-35%.

Direktur Operasi I ADHI Budi Saddewa Soediro menuturkan perusahaan akan membangun depo dan stasiun sepanjang jalur LRT sebanyak 18 titik lokasi. Nilai kapitalisasi proyek untuk 18 TOD ini membutuhkan senilai kurang lebih Rp55 triliun.

"Kapitalisasi proyek TOD ini tentu sesuai dengan kebutuhan lokasi tetapi yang sudah dibangun dan dirilis ini cukup menarik karena harganya. Untuk 18 stasiun butuh waktu 5 ampe 10 tahun," ujarnya.

Saat ini baru 4 lokasi stasiun dan depo yang tengah dikembangkan. Keempat lokasi tersebut berada di Sentul, Ciracas, Bekasi Timur, dan Jati Cempaka.

Total tanah yang akan dipakai untuk dibangun empat TOD tersebut sekitar 20 hektare sampai 25 hektare.

Progres Proyek LRT

Agus menambahkan hingga saat ini, progress pembangunan LRT telah mencapai rerata sebesar 37,1% dengan rincian lintas layanan I Cibubur--Cawang sebesar 60%, lalu Cawang--Dukuh Atas sekitar 23%, dan Cawang--Bekasi Timur sebesar 34%.

Pendanaan proyek LRT memang sebagian dari Rp29 triliun tersebut, sudah termasuk dengan sarana dan operasional.

"Keretanya dari PT KAI, kontraknya dengan ADHI Rp22,7 triliun berupa kontrak prasarananya berupa kontrak infrastruktur, power supply, dan railway system," ucapnya.

Saat ini, ADHI tengah menunggu pengembalian dana yang telah digunakan perusahaan membangun LRT senilai Rp1,8 triliun.

"Pendanaannya dari KAI dan akhir bulan ini tagihan akan cair, saat ini proses pemeriksaan di Kemenhub nilainya Rp1,8 triliun," kata Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper