Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah saham perbankan di Bursa AS jeblok setelah kebijakan tarif impor diresmikan oleh Presiden Donald Trump. Jebloknya saham perbankan AS didorong oleh kekhawatiran lesunya ekonomi global dan ancaman resesi akibat kebijakan tarif Trump.
Dilansir dari Reuters, indeks saham perbankan di Nasdaq atau KBW Bank Index (BKX) mencatatkan kinerja jeblok hampir turun 10% pada penutupan perdagangan Kamis (3/4/2025) sehari setelah Trump meresmikan kebijakan tarifnya.
Pelemahan indeks saham perbankan AS itu menjadi paling jeblok sejak krisis perbankan di AS pada Maret 2023. Saat itu, indeks saham perbankan di AS runtuh 11% karena gejolak akibat gagalnya sejumlah bank, seperti Silicon Valley Bank dan Signature Bank.
Kemudian, berdasarkan data Bloomberg, indeks saham perbankan di Nasdaq itu juga turun 7,29% pada perdagangan Jumat (4/4/2025) ke level 188,38.
Sejumlah saham bank di AS pun mencatatkan kinerja jeblok setelah Trump mengumumkan kebijakan tarifnya. Saham Citigroup misalnya mencatatkan kinerja saham yang anjlok lebih dari 12% sehari setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif.
Sementara, saham Bank of America anjlok 11%. Saham Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan Wells Fargo masing-masing anjlok lebih dari 9%. Lalu, saham JPMorgan Chase anjlok lebih dari 7%.
Baca Juga
Chief investment officer di Greenwood Capital Walter Todd mengatakan telah terjadi aksi jual atas saham perbankan di AS imbas kebijakan tarif Trump. "Karena potensi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tekanan kredit yang ditimbulkannya bagi bank," katanya dilansir dari Reuters pada Jumat (4/4/2025).
Sebagaimana diketahui, tarif impor AS telah resmi diumumkan oleh Trump pada Rabu (2/4/2025), waktu setempat. Seluruh negara diganjar tarif impor 10%, sedangkan beberapa negara turut dikenakan tarif resiprokal (reciprocal tariffs) lebih tinggi berdasarkan hambatan perdagangan dengan AS.
Director of research di Janney Montgomery Scott Chris Marinac juga menilai investor dikondisikan untuk menjual saham bank ketika muncul berita buruk apa pun, mengingat saham-saham bank sangat sensitif secara ekonomi.
"Jadi, meskipun secara fundamental bank tetap dalam posisi yang kuat, yang kemungkinan akan kita lihat dalam laba, sikap terhadap saham tetap negatif," kata Janney.
Para ekonom pun telah memperingatkan bahwa kebijakan tarif dapat memperlambat ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi.
"Industri perbankan sangat erat kaitannya dengan apa yang terjadi dalam lingkungan ekonomi makro. Jadi jika belanja konsumen dan investasi perusahaan melambat atau jika tingkat pengangguran meningkat, maka semua ini berdampak buruk secara material pada industri perbankan AS," kata Morningstar senior equity analyst Suryansh Sharma.