Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Saham Asean Bergejolak Imbas Kebijakan Tarif Trump, IHSG Aman?

Pasar saham dan mata uang Asia Tenggara bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan kebijakan tarif impor ke sejumlah negara.
Papan informasi saham Stock Exchange of Thailand (SET) yang ditampilkan di bangkok, Thailand pada Senin (26/10/2020). / Bloomberg-Taylor Weidman
Papan informasi saham Stock Exchange of Thailand (SET) yang ditampilkan di bangkok, Thailand pada Senin (26/10/2020). / Bloomberg-Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham dan mata uang Asia Tenggara terguncang setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan kebijakan tarif impor terhadap sejumlah negara, seperti Vietnam, Thailand, hingga Indonesia. 

Melansir Bloomberg, Kamis (3/4/2025), indeks saham utama Vietnam turun hingga 6,2%. Angka tersebut menjadi penurunan harian terbesar selama lebih dari empat tahun. Saham di Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura juga mencatat pelemahan. 

Sementara itu, nilai tukar baht Thailand melemah hingga 0,8% terhadap dolar AS, diikuti oleh dong Vietnam dan ringgit Malaysia yang juga terdepresiasi.

Aset di Asia Tenggara terguncang setelah terkena dampak dari tarif timbal balik yang diumumkan Donald Trump. AS kini menerapkan tarif impor sebesar 46% untuk Vietnam, 36% untuk Thailand, dan 32% untuk Indonesia. Adapun mitra dagang terbesar kawasan ini, China, menghadapi tarif kumulatif sebesar 54%.

“Ekonomi Asean akan menghadapi hambatan besar dalam beberapa bulan ke depan akibat kenaikan tajam tarif AS terhadap ekspor mereka,” ujar Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier Ltd., Singapura, Kamis (3/4/2025). 

Menurutnya, sejauh ini juga belum ada kejelasan apakah pemerintah di Asia Tenggara dapat menegosiasikan penurunan tarif secara signifikan dengan tim Donald Trump. 

Ekonomi Asia Tenggara memang rentan terhadap tarif AS karena negara ini masuk dalam dua mitra dagang utama bagi Singapura, Vietnam, Thailand, dan Filipina.

Vietnam, yang sebelumnya mencoba merayu pemerintahan Trump sebelum pengumuman tarif, juga tidak luput dari kebijakan proteksionis AS. 

Padahal, negara tersebut bergantung pada perdagangan, dengan ekspor mencapai hampir 90% dari total output ekonomi. Vietnam juga memiliki surplus perdagangan terbesar ketiga dengan AS, menjadikannya target utama tarif impor tinggi.

Kepala Pialang Institusional di SBB Securities Corp, Nguyen Anh Duc, mengatakan bahwa tidak heran jika terjadi panic selling di pasar saham. Sebab, investor lokal hanya memperkirakan tarif sebesar 10% hingga 15%. 

“Jika harga saham turun 10% lagi, kami bisa melihat tekanan margin call yang lebih besar,” ujar Nguyen Anh Duc seperti dikutip Bloomberg

Sementara itu, pasar saham di Singapura dan Malaysia memangkas pelemahan sebelumnya karena kedua negara hanya dikenakan tarif lebih ringan, sedangkan pasar saham Indonesia ditutup hingga 7 April 2025 karena libur nasional Lebaran.

PROYEKSI IHSG

Sementara itu, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengungkapkan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan semakin tidak stabil bahkan cenderung melemah akibat kebijakan tarif baru Trump.

"Terutama untuk [emiten di] beberapa sektor berorientasi ekspor," jelas Wija, Kamis (3/4/2025).

Sejalan dengan itu, rupiah akan tertekan dan cenderung melemah. Akibatnya upaya refinancing utang dan utang baru pada tahun ini tidak akan mudah.

Di satu sisi, investor ingin imbal hasil yang lebih menarik. Di sisi lain, Indonesia juga harus hati-hati menghadapi pasar yang semakin berat sehingga harus menjaga imbal hasil.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi 7.350 pada 2025 atau lebih rendah dari sebelumnya 7.850.

Analis BRI Danareksa Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi mengatakan bahwa penyesuaian dilakukan seiring prospek melambatnya pertumbuhan ekonomi, serta kinerja emiten yang berada di bawah ekspektasi.

Menurut keduanya, minimnya katalis pertumbuhan membuat laba per saham (earnings per share/EPS) diperkirakan melemah pada kuartal II/2025. Akibatnya, estimasi pertumbuhan EPS tahun ini dipangkas dari 6,5% menjadi 4,5%.

“Dengan mempertimbangkan revisi estimasi pertumbuhan EPS dan ekspektasi pertumbuhan yang lebih konservatif, kami menyesuaikan target IHSG akhir 2025 menjadi 7.350,” ujarnya dalam riset yang dirilis baru-baru ini.

Erindra dan Wilastita menuturkan bahwa saat ini IHSG diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) 11,4 kali dengan spread imbal hasil sebesar 154bps dibandingkan dengan yield obligasi 10 tahun, level terlebar sejak Juni 2012.

Di sisi lain, meskipun kondisi pasar mengingatkan pada situasi tahun 2015, ketika pertumbuhan ekonomi dan EPS melambat serta defisit fiskal melebar, masih terdapat faktor positif berupa neraca perdagangan Indonesia yang lebih kuat. 

Selain itu, kepemilikan asing di pasar saham yang kini sebesar 17% juga masih lebih tinggi dibandingkan level terendah 2020-2021 yang mencapai 12%.

“Kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 5.900–6.700 pada kuartal II/2025, karena sebagian besar skenario pesimistis telah diperhitungkan, meskipun risiko masih ada akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Dari sisi makro, Head of Research dari NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menyatakan penerapan tarif timbal balik sebesar 32% berisiko mengakhiri surplus neraca perdagangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Per Februari 2025, Indonesia surplus US$3,12 miliar karena didorong penurunan impor domestik akibat tekanan sosial yang semakin meningkat. Capaian itu adalah surplus selama 58 bulan beruntun sejak Mei 2020. Akan tetapi, lebih rendah jika dibandingkan surplus Januari 2025 yang mencapai US$3,45 miliar.  

“Tarif baru dari Trump dapat mengakhiri surplus ini, terutama karena AS merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia,” ucap Ezaridho. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper