Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mengestimasi rasio pembagian dividen tahun buku 2024 sebesar 80% sampai dengan 90% dari laba bersih perseroan.
Besaran rasio dividen itu belakangan jadi perhitungan manajemen kendati laba bersih PGEO sepanjang 2024 terkoreksi 1,89% secara tahunan ke level US$160,49 juta atau sekitar Rp2,67 triliun (asumsi kurs Rp16.666 per dolar AS).
“Kami mau mempertahankan dividend per share-nya at least walaupun profit kami turun tapi dividend per share itu kami bisa mengalami kenaikan dari tahun lalu,” kata Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio saat temu media full year result 2024 di Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Yurizki mengatakan perseroannya masih mengkaji kemungkinan pembagian dividen tahun buku 2024 pada rentang rasio tersebut.
Menurut Yurizki, perseroannya konsen pada upaya peningkatan imbal investasi kepada pemegang saham.
Di sisi lain, dia mengatakan PGEO juga bakal menjaga arus kas untuk alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini.
“Untuk mengoptimalkan pengembalian investasi pemegang saham dan juga mendukung pertumbuhan capex yang diperlukan PGEO tahun ini,” katanya.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir Desember 2024, PGEO membukukan pendapatan sebesar US$407,12 juta, naik 0,20% dibandingkan dengan posisi pendapatan periode 2023 sebesar US$406,28 juta.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan dan beban langsung PGEO sepanjang 2024 mencapai US$164,88 juta, naik 4,13% dari posisi beban pada 2023 sebesar US$158,35 juta.
Setelah dikurangi beban, PGEO membukukan laba bruto sebesar US$242,23 juta, susut dari posisi laba bruto tahun 2023 sebesar US$247,93 juta.
Sementara itu, PGEO mencatatkan total liabilitas sebesar US$988,65 juta, berasal dari liabilitas jangka pendek sebesar US$227,29 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar US$761,35 juta.
Adapun, total ekuitas PGEO sampai akhir Desember 2024 sebesar US$2 miliar, bergerak naik dari posisi ekuitas tahun 2023 sebesar US$1,97 miliar.
Selain itu, total aset PGEO sampai akhir 2024 mencapai US$2,99 miliar, berasal dari aset lancar mencapai US$828,55 juta dan aset tidak lancar sebesar US$2,16 miliar.