Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Runtuh, Penundaan Short Selling dan Roadshow BEI jadi Opsi Terbaik?

Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang penundaan short selling dan melakukan kunjungan ke sejumlah negara guna meredam tekanan pada IHSG.
Karyawan beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (14/1/2025)./JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (14/1/2025)./JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku pasar merespons positif rencana penundaan short selling dan agenda roadshow Bursa Efek Indonesia (BEI) ke sejumlah negara guna meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Otoritas bursa berencana menempuh langkah tersebut mengingat kondisi IHSG yang sedang tertekan belakangan ini. Pada perdagangan Jumat (28/2/2025), IHSG ditutup melemah sebesar 3,31% menuju level 6.270 dan ambles 11,43% sejak awal tahun. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak 2021.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata melihat bahwa keputusan untuk menunda short selling dapat memberikan kelegaan bagi para pelaku pasar, mengingat kondisi pasar yang sedang tidak kondusif.

“Langkah ini diharapkan dapat mencegah tekanan lebih lanjut akibat short selling yang agresif,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/2/2025).

Sementara itu, rencana roadshow BEI ke sejumlah negara dipandang sebagai langkah jemput bola guna menarik kembali capital outflow yang sempat deras. Namun, Liza menilai bahwa pernyataan dari BEI harus didukung oleh data yang solid.

“Keberhasilan langkah ini hanya dapat tercapai melalui program strategis pemerintah yang kuat, serta kebijakan yang pro-pertumbuhan dan investasi,” pungkasnya.

Menurutnya, institusi asing yang memiliki tingkat perhitungan tinggi akan menilai sejauh mana upaya pemerintah dalam mendorong iklim investasi yang kondusif.

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso juga sepakat dengan opsi penundaan short selling untuk menghindari tekanan tambahan di pasar saham.

Dia menyatakan bahwa mencegah capital outflow bukan hal mudah, mengingat mayoritas saham berkapitalisasi besar dimiliki oleh investor asing yang perlu mengalihkan likuiditas ke negara dengan prospek lebih baik.

Oleh karena itu, dalam roadshow, Aria menyatakan komunikasi harus dilakukan penuh percaya diri untuk meyakinkan bahwa Indonesia memiliki prospek menjanjikan. Musababnya, persepsi sangat memengaruhi keputusan investasi.

“Semoga langkah BEI ini cukup efektif. Selain itu, ada beberapa langkah lain yang dapat dilakukan, seperti menganjurkan emiten untuk menyiapkan aksi buyback jika diperlukan, memberikan edukasi cepat dan luas kepada masyarakat tentang peluang investasi di emiten berkualitas dengan harga menarik,” pungkasnya.

Dia juga menyatakan langkah-langkah seperti konferensi pers guna mencegah panic selling dari investor domestik yang berorientasi jangka panjang dan solusi lindung nilai juga dapat dilakukan guna meredam tekanan pasar saat ini.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper