Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Suram IHSG Akibat Memanasnya Konflik Iran-Israel

Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel menjadi sentimen negatif untuk IHSG.
Pengunjung beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (5/2/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (5/2/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran 2024 atau Hari Raya Idulfitri 1445 H. Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel menjadi sentimen negatif untuk IHSG.

IHSG terpantau merosot 1,68% atau 122,07 poin menjadi 7.164,80 pada akhir perdagangan Selasa (16/4/2024). Sepanjang sesi, indeks komposit bergerak di rentang 7.066-7.285.

Pada saat yang sama, sejumlah saham di Bursa Asia lainnya juga melemah. Misalnya, Hang Seng Index Hongkong (HSI) ambles 2,12%, diikuti Shanghai Composite Index (SSEC) turun 1,65%, dan Straits Times Index Singapura (STI) melemah 0,98%. Sementara itu Nikkei 225 Index Tokyo (N225) stagnan.

Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, IHSG masih akan cenderung tertekan dalam beberapa waktu ke depan dan saat ini pelaku pasar pun masih mewaspadai tensi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

"Jika terjadi serangan balik dari Israel maka dampaknya terhadap pasar akan jauh lebih besar, sehingga investor disarankan wait and see sambil menantikan perkembangan dalam waktu dekat," ujar Audi kepada Bisnis, Selasa (16/4/2024).

Adapun, peningkatan tensi politik antara negara-negara Timur Tengah terjadi pasca serangan lebih dari 300 drone dan rudal oleh Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) waktu setempat.

"Untuk rentang level IHSG kami perkirakan akan bergerak dalam support 7.100 dan resistance 7.300," sambungnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pasca rilis data inflasi AS yang di atas ekspektasi pasar pada pekan lalu, potensi pemangkasan suku bunga The Fed menurun hanya menjadi dua kali, atau di bawah ekspektasi pasar sebelumnya pada tahun ini. Dampaknya, dalam jangka panjang berpotensi akan menggerus daya beli masyarakat dan melambatkan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, investor akan mengalihkan investasi pada aset yang berisiko rendah (low risk) sehingga dapat memberikan sentimen negatif untuk pasar saham.

"Ditambah dengan sentimen tersebut, membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin melemah, sehingga memungkinkan Bank Indonesia untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter dalam negeri," pungkas Audi.

Senada, Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan pelemahan IHSG hari ini mayoritas disebabkan sentimen negatif dari tensi geopolitik Timur Tengah.

Namun, selain itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan terjadi kenaikan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net di level 0,82% periode Februari 2024, naik dari bulan sebelumnya di angka 0,79%.

"Lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga melemah tajam pada perdagangan hari ini, menyentuh level Rp16.201 per dolar AS," pungkas Felix kepada Bisnis.

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper