Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Siap-siap, Harga Emas Diramal Tembus Rekor US$2.206 Pekan Ini

Harga emas dunia diprediksi akan menembus level tertinggi pekan ini di posisi US$2.206 per troy ounce.
Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa
Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas global diprediksi akan menembus level tertinggi pekan ini di posisi US$2.206 per troy ounce menyusul kebijakan suku bunga bank sentral dunia, ekonomi China yang kembali membaik, serta memanasnya konflik Timur Tengah. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas kembali mencetak rekor tertinggi hingga ke atas level US$2.180 per troy ounce. Pada pukul 15.04 WIB, kedua jenis emas yang diperdagangkan kompak menguat. Emas spot naik 0,17% ke posisi US$42.182 per troy ounce, sementara emas berjangka comex menguat 0,05% ke level US$2.186 per troy ounce. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas global akan mencapai level tertinggi di US$2.206 per troy ounce pada perdagangan pekan ini. Hal ini dipicu oleh kebijakan bank-bank sentral dunia. 

“Harga emas dunia mencapai level tertinggi, kemungkinan besar dalam minggu ini akan menuju US$2.206 per troy ounce,” kata Ibrahim kepada media, Senin (11/3/2024). 

Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan, harga emas akan dipicu oleh kebijakan beberapa bank sentral. Pertama adalah kemungkinan besar penurunan suku bunga oleh The Fed yang diprediksi akan dilakukan pada semester II/2024 mendatang. Tidak ketinggalan, ekonomi China juga akan diprediksi membaik dengan kebijakan Bank Sentral China yang banyak menggelontorkan stimulus dan insentif. 

Selanjutnya, adalah Bank of Japan (BoJ) yang kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga guna memperbaiki perekonomian Jepang yang bermasalah sejak kuartal IV/2023. 

“Ekonomi Jepang kuartal IV/2023 mengalami kontraksi dan ini kemungkinan besar akan dilakukan oleh Bank Sentral untuk memulihkan perekonomian dengan cara menaikkan suku bunga,” kata dia. 

Di sisi lain, ketegangan geopolitik Timur Tengah semakin besar. Hal ini dipicu oleh Israel yang menyerang Lebanon. Serta serangan balasan oleh Lebanon terhadap Israel yang terjadi saat Ramadan di Timur Tengah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper