Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Perkasa ke Rp15.713 saat Dolar AS Lesu

Rupiah dibuka perkasa ke Rp15.713 hari ini Jumat (1/3/2024), sementara itu dolar AS justru melemah.
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka perkasa ke posisi Rp15.713 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (1/3/2024). Mata uang kawasan Asia terpantau bervariasi, namun dolar AS lesu pagi ini.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka menguat 0,04% atau 6 poin ke level Rp15.713 per dolar AS, setelah ditutup melemah kemarin. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau melemah 0,08% ke posisi 104,07.

Mata uang kawasan Asia lainnya yang terpantau melemah terhadap dolar AS pagi ini, misalnya, yen Jepang turun 0,27%, dolar Singapura turun tipis 0,01%, dolar Taiwan melemah 0,09%, won Korea merosot 0,33%, yuan China turun 0,11%, dan baht Thailand turun 0,03%.

Sementara itu, mata uang Asia yang masih kebal terhadap dolar AS yakni peso Filipina menguat 0,28%, rupee India naik 0,02%, dan ringgit Malaysia menguat 0,12%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp15.700 - Rp15.750 per dolar AS.

Lebih lanjut dia mengatakan, fokus pasar saat ini tertuju pada data indeks harga PCE, ukuran inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis hari ini.

Angka tersebut diperkirakan akan menegaskan kembali bahwa inflasi AS masih stabil di bulan Januari, terutama menyusul angka inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan tersebut.

Adapun, angka tersebut juga muncul setelah pejabat Fed John Williams dan Raphael Bostic mengatakan bank sentral perlu melakukan lebih banyak upaya untuk mencapai inflasi guna memenuhi target bank sebesar 2%.

“Komentar mereka, yang muncul setelah serangkaian peringatan serupa dari pejabat lain, menambah keraguan atas ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada awal tahun 2024,” kata Ibrahim dikutip Jumat (1/3/2024).

Selain itu, anggota BOJ Hajime Takata mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral harus mempertimbangkan jalan keluar dari kebijakan ultra-longgarnya. Takata menyerukan diakhirinya pengendalian kurva imbal hasil dan suku bunga negatif BOJ, dengan alasan kemajuan dalam mencapai target inflasi bank sentral sebesar 2%.

Dari sentimen domestik, inflasi pada Februari 2024 diperkirakan naik, baik secara tahunan maupun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Inflasi Februari 2024 diperkirakan akan mencapai 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) atau 2,62% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 0,04% mtm atau 2,57% yoy.

Inflasi pada periode tersebut akan didorong oleh inflasi pada komponen inti dan harga bergejolak (volatile food).  Inflasi inti diperkirakan akan mencapai 1,7% yoy, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,68% yoy.

Di sisi lain, inflasi inti yang cenderung stabil hingga Februari 2024 mengindikasikan ekspektasi inflasi terjangkar dengan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini. Namun, inflasi umum pada akhir 2024 diperkirakan akan berkisar 3,0-3,5% yoy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper