Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Lesu ke Level Rp15.705, Tertekan Sentimen The Fed

Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.705 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu, (24/1/2024).
Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.705 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu, (24/1/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.705 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu, (24/1/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.705 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu, (24/1/2024). Nilai tukar rupiah tertekan akibat proyeksi Federal Reserve tetap menahan suku bunga acuan pada Maret 2024.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka merosot 0,43% atau 68 poin ke level Rp15.705 per dolar AS. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau turun 0,12% ke posisi 103,49.  

Sederet mata uang kawasan Asia lainnya terpantau melemah terhadap dolar AS pagi ini, misalnya, dolar Hongkong turun 0,02%, dolar Taiwan melemah 0,08%, won Korea ambles 0,48%, ringgit Malaysia turun 0,15%, dan baht Thailand merosot 0,32%.

Sementara itu, mata uang Asia yang masih kebal terhadap dolar AS yaitu yen Jepang menguat 0,21%, dolar Singapura naik 0,04%, dan yuan China menguat tipis 0,02%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.610-Rp15.660 per dolar AS pada perdagangan hari ini. 

"Sentimen utama terhadap rupiah datang dari CME Fedwatch yang menunjukkan para trader yang memperkirakan adanya peluang lebih besar jika bank sentral akan mempertahankan suku bunga stabil pada Maret," jelasnya dalam publikasi riset. 

Adapun, The Fed juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan FOMC pekan depan. Namun, pasar juga menanti data ekonomi utama AS pekan ini.

Menurutnya, data PDB AS kuartal IV/2023 yang dirilis pada Kamis (25/1) pekan ini diperkirakan akan menunjukkan penurunan pertumbuhan, sementara data indeks harga PCE yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed akan dirilis pada Jumat. Data tersebut kemungkinan akan menegaskan jika inflasi tetap stabil di bulan Desember. 

"Suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama merupakan pertanda buruk bagi mata uang Asia. Hal ini mengingat negara-negara Asia menarik modal dari aset-aset yang berisiko tinggi dan berimbal hasil tinggi," imbuh Ibrahim.

Rupiah Dibuka Lesu ke Level Rp15.705, Tertekan Sentimen The Fed

Sementara itu dari dalam negeri, sentimen datang dari perkembangan cadangan devisa Indonesia pada 2024 yang diperkirakan akan terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi global, yang diproyeksikan melambat dan harga komoditas yang diperkirakan melandai. 

"Pertumbuhan cadangan devisa penting untuk menjaga ketahanan mata uang rupiah dalam mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro dan sistem keuangan di dalam negeri," tutur Ibrahim. 

Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,4 miliar pada akhir Desember 2023, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2023 yang sebesar US$138,1 miliar. 

Posisi cadangan devisa di Desember itu setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor dan 6,5 bulan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Capaian cadangan devisa tersebut juga berada di atas standar kecukupan yang disepakati secara internasional yaitu sebesar tiga bulan impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper