Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Kembali ke Sekitar US$80 per Barel Setelah AS dan Inggris Menyerang Houthi

Harga minyak jenis Brent di pasar spot pengiriman Maret 2024 berada pada level US$79,67 per barel pada pukul 17.15 WIB.
Aktivitas di kilang minyak Nasiriyah, Irak./Bloomberg.
Aktivitas di kilang minyak Nasiriyah, Irak./Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak jenis WTI bertahan di area sekitar US$80 setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris melancarkan serangan baru kepada Houthi. Serangan langsung negara barat itu meningkatkan ketegangan di Timur Tengah yang juga pemasok sepertiga minyak dunia. 

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (23/1/2024), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Maret 2024 menguat 2,42% atau 1,78 poin ke level US$75,19 per barel pada pukul 14.19 WIB.   Level harga ini kemudian berbalik ke level US$74,41 per barel pada pukul 17.15 WIB. 

Sementara itu, harga minyak Brent, sebagai patokan global, pada kontrak Maret 2024 sempat menguat 0,24% atau 0,19 poin ke posisi US$80,25 per barel pada pukul 15.30 WIB. Level harga ini kemudian ditinggalkan setelah melemah menjadi US$79,67 per barel pada pukul 17.15 WIB. 

Fluktuasi harga minyak mentah pada sesi pembukaan setelah laporan serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap fasilitas energi di pantai Baltik Rusia. Ini membuka front baru dalam konflik kedua negara tersebut, hampir 2 tahun setelah invasi Rusia. 

Adapun, pasukan AS dan Inggris meluncurkan serangan terbaru yang diklaim terkait Houthi. Langkah tersebut diklaim untuk mencegah kelompok tersebut menyerang kapal komersial di Laut Merah.

Harga minyak mentah menghadapi kesulitan dalam menentukan arah yang jelas pada tahun ini, meskipun terdapat banyak ketegangan geopolitik dan janji dari OPEC untuk mengendalikan produksi. 

Arah harga minyak juga diimbangi dengan indikasi produksi berlimpah di luar OPEC, dengan Badan Energi Internasional (EIA) memperkirakan pasokan yang cukup.

Di lain sisi, Libya juga kembali memompa minyak dari ladang terbesarnya setelah terhenti. Pengeboran dari Negeri Paman Sam juga pulih dari pembekuan yang merugikan operasi. 

“[Serangan di Rusia] adalah pengingat penting bahwa kita sedang menghadapi konflik di dua wilayah penghasil energi yang penting,” jelas kepala penelitian komoditas & karbon di Westpac Banking Corp, Robert Rennie.

Lanjutnya, ia berpendapat bahwa persediaan minyak akan semakin ketat setelah produksi AS dipengaruhi oleh cuaca buruk dan pemangkasan OPEC+, meskipun kembalinya pasokan di Libya yang membantu mengurangi pengetatan. 

Di lain sisi, Houthi mengatakan bahwa serangan terhadap kapal-kapal di lepas pantai Yaman dimaksudkan untuk mendukung Hamas atas invansi Israel di Gaza. 

Serangan yang dilakukan secara signifikan mengurangi transit melalui Laut Merah dan Terusan Suez, meningkatkan biaya transportasi dan asuransi, serta meningkatkan potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. 

Pada Senin (22/1), minyak mentah Brent berhasil membukukan penutupan pertamanya di atas level US$80 per barel pada tahun ini. 

Kemudian, perbedaan antara dua kontrak terdekat Brent adalah 46 sen per barel dalam pola backwardation, yakni sebuah struktur jangka pendek yang bullish, berbeda dengan 3 sen per barel di hari perdagangan pertama pada 2024. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper