Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AS-Inggris Serang Houthi Yaman, Harga Minyak Ikut Mendidih

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari 2024 menguat 2,35% atau 1,69 poin ke level US$73.71 per barel pada pukul 14.15 WIB.
Seorang pekerja berdiri di samping tangki penyimpanan minyak di Pilipinas Shell Petroleum Corp. Shell Import Facility Tabangao (SHIFT) di Batangas City, Filipina./Bloomberg
Seorang pekerja berdiri di samping tangki penyimpanan minyak di Pilipinas Shell Petroleum Corp. Shell Import Facility Tabangao (SHIFT) di Batangas City, Filipina./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak telah melonjak ketika Amerika Serikat (AS) dan sekutunya melancarkan serangan udara terhadap pemberontak Houthi, meningkatkan pembalasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. 

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (12/1/2024), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari 2024 menguat 2,35% atau 1,69 poin ke level US$73.71 per barel pada pukul 14.15 WIB. Sementara itu, harga minyak Brent kontrak Maret 2024 menguat 2,27% atau 1,76 poin ke posisi US$79,17  per barel.

Harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global telah naik sebanyak 2,5% sehingga berada di atas US$79 per barel. Hal ini karena investor berusaha untuk mengukur kemungkinan, apakah serangan tersebut akan memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Bahaya utama bagi harga minyak adalah jika Iran terlibat langsung dalam konflik ini, yang dapat mengancam produksi dan aliran di wilayah yang menghasilkan sepertiga dari produksi minyak dunia. 

Hal ini berarti memperkenalkan kembali premi risiko perang ke pasar, yang telah mengurangi pasokan non-OPEC+ dan memperlambat pertumbuhan permintaan. 

Kepala strategi komoditas di ING Groep NV, Warren Patterson, mengatakan bahwa peningkatan konflik menunjukkan potensi gangguan yang lebih besar, dan kebutuhan akan pengalihan kapal.

"Namun, risiko yang lebih besar adalah jika hal ini menyebar dan kita mulai melihat ancaman terhadap aliran yang keluar dari Teluk Persia. Meskipun kami percaya bahwa risikonya rendah, dampaknya akan signifikan,” terangnya. 

Adapun, Biden presiden AS Joe Biden membuka kemungkinan untuk  melakukan tindakan tambahan terhadap Houthi.

"Saya tidak akan ragu untuk mengarahkan langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi rakyat kami dan aliran bebas perdagangan internasional jika diperlukan," jelas Biden. 

Iran kemudian mengutuk serangan-serangan tersebut, dengan kementerian luar negeri mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut hanya akan memicu ketidakamanan dan ketidakstabilan di seluruh wilayah.

Menjelang serangan tersebut, Citigroup Inc. memperkirakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah telah menambah sekitar US$2 - US$3 barel pada Brent. Menurutnya, premi tersebut dapat meningkat secara substansial jika gangguan pasokan semakin meluas.

Di lain sisi, Standard Chartered Plc mengatakan minyak dihargai lebih rendah setidaknya sebesar US$10.

Spread prompt Brent, yakni selisih antara dua kontrak terdekat dan metrik utama, mengisyaratkan kondisi jangka pendek yang lebih ketat. Selisih mencapai sebesar 37 sen per barel dalam pola backwardation, naik dari 3 sen pada hari perdagangan pertama pada 2024.

Pendiri konsultan Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan bahwa fluktuasi harga akan tetap terjadi. 

“Ini adalah tarik-menarik yang tidak seimbang antara pandangan fundamental yang bearish dan premi risiko Timur Tengah yang mendukung. Saat ini, keduanya diperkirakan akan tetap bermain,” terangnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper