Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Brent Naik ke Level Tertinggi Sejak April, Pasokan Tertekan

Minyak menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, dengan minyak mentah Brent melampaui US$84 dolar AS per barel.
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia/Bloomberg-Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia/Bloomberg-Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, dengan minyak mentah Brent melampaui US$84 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak April.

Kenaikan harga minyak didukung oleh pengetatan pasokan setelah pengurangan produksi OPEC+ dan pembaharuan bullish pada prospek permintaan China dan pertumbuhan global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terangkat 1,6 persen, ditutup pada US$84,35 per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September bertambah 1,7 persen, menjadi menetap pada US$80.09 per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah telah membukukan empat kenaikan mingguan berturut-turut di tengah pengetatan pasokan yang diharapkan karena pengurangan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+, serta beberapa pemadaman paksa.

"Kami melihat pasar minyak kekurangan pasokan," kata analis UBS dalam sebuah laporan. "Kami mempertahankan pandangan positif dan memperkirakan Brent naik menjadi 85-90 dolar AS selama beberapa bulan mendatang."

Namun, minyak turun pada Rabu (26/7/2023) setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun kurang dari yang diharapkan dan Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase, membuka jalan untuk kenaikan lainnya.

Selera risiko di pasar keuangan yang lebih luas didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa bank-bank sentral seperti The Fed mendekati akhir kampanye pengetatan kebijakan, yang akan meningkatkan prospek pertumbuhan global dan permintaan energi.

Ekonomi AS tumbuh lebih besar dari yang diharapkan 2,4 persen pada kuartal terakhir, data pemerintah menunjukkan Kamis (27/7/2023), karena ketahanan pasar tenaga kerja mendukung belanja konsumen, sementara bisnis meningkatkan investasi dalam peralatan, berpotensi mencegah resesi.

"Dengan kenaikan suku bunga baik pada atau mendekati puncak di tengah meningkatnya pandangan bahwa resesi akan dihindari, aset-aset berisiko seperti minyak menjadi semakin menarik," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, dikutip dari Reuters.

Adapun Yang menjadi fokus berikutnya adalah pertemuan para menteri OPEC+ pada 4 Agustus untuk meninjau pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper