Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Tersandung Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral Jepang

Wall Street melemah pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, setelah berita bahwa Bank Sentral Jepang akan mengizinkan kenaikan suku bunga jangka panjang.
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Wall Street melemah pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, setelah berita bahwa Bank Sentral Jepang akan mengizinkan kenaikan suku bunga jangka panjang sehinggga imbal hasil AS lebih tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 237,40 poin atau 0,67 persen, menetap di 35.282,72 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 29,29 poin atau 0,64 persen, berakhir di 4.537,46 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 77,18 poin atau 0,55 persen, ditutup di 14.050,11 poin.

Surat kabar Nikkei melaporkan bank sentral akan mempertahankan batas 0,5 persen untuk imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun, tetapi membahas kemungkinan kenaikan suku bunga jangka panjang di atas level tersebut pada tingkat tertentu.

Reuters mengonfirmasi bahwa bank sentral mungkin melakukan perubahan kecil untuk memperpanjang umur kebijakan pengendalian imbal hasil.

Michael Green, kepala strategi investasi di Simplify Asset Management, mengatakan laporan rencana Bank Sentral Jepang adalah pendorong terbesar di balik kinerja Wall Street pada Kamis (27/7/2023).

Suku bunga yang lebih tinggi di Jepang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun lebih dari 4,0 persen dan mengurangi daya tarik saham.

Pada Rabu (26/7/2023), Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin seperti yang diharapkan. Pedagang sekarang hanya melihat peluang 20 persen bahwa Fed dapat mengejutkan dengan kenaikan seperempat poin pada September.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada Rabu (26/7/2023) bahwa staf Fed tidak lagi memperkirakan resesi AS, tetapi tidak mengesampingkan kenaikan suku bunga lainnya, mengatakan Fed akan mengikuti data ekonomi di masa depan.

Pada Kamis (27/7/2023), laporan Departemen Perdagangan menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan pada kuartal terakhir, dengan pembacaan produk domestik bruto meningkat 2,4 persen, di atas perkiraan 1,8 persen oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Kim Rupert, direktur pelaksana pendapatan tetap global di Action Economics di San Francisco, mengatakan data ekonomi yang kuat pada hari sebelumnya juga membuat pasar menilai kembali posisinya setelah Federal Reserve sedikit meningkatkan prospek pertumbuhannya pada Rabu (26/7/2023).

"Pasar sedang melihat potensi peningkatan untuk kenaikan suku bunga Fed lainnya yang sebagian besar telah diantisipasi," kata Rupert, yang memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada September.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper