Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nasib Emiten Sektor Ritel di Tengah Ancaman Kenaikan Inflasi

Phintraco Sekuritas menilai bahwa prediksi peningkatan tekanan inflasi pada November 2023 diperkirakan tidak berdampak signifikan pada emiten sektor ritel.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Phintraco Sekuritas menilai bahwa prediksi peningkatan tekanan inflasi pada November 2023 diperkirakan tidak berdampak signifikan pada emiten sektor ritel pada paruh kedua tahun ini.

Pasalnya, inflasi Indonesia telah mencatat tren penurunan yang positif hingga kuartal III/2023. Inflasi pada Juni 2023 turun hingga 3,5 persen (year on year/yoy) dari semula sebesar 4 persen.

Angka tersebut diperkirakan masih akan bertahan hingga akhir tahun 2023 karena potensi periode puncak inflasi yang bertepatan dengan bulan Ramadan 1444 H dan Hari Raya Iduladha 1444 H pun sudah terlewati.

“Sekalipun terjadi kenaikan inflasi di November 2023, inflasi diperkirakan masih berada pada kisaran rentang asumsi inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, diyakini tidak ada dampak signifikan pada sektor ritel di 2H2023,” ujar Head of Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan kepada Bisnis, Rabu (12/7/2023).

Selain itu, Valdy juga menyebut bahwa sektor ritel juga masih akan ditopang oleh kecenderungan peningkatan konsumsi di Indonesia. Terutama pada momen libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2023.

Seperti diketahui, Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa tekanan inflasi akan meningkat pada November 2023.

Pada November mendatang, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tercatat pada angka 123,0, naik sedikit jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 121,6.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan bahwa tekanan inflasi yang cenderung meningkat pada November 2023 karena memperhitungkan tren musiman jelang akhir tahun di mana permintaan diperkirakan naik, juga kemungkinan terjadinya El Nino yang berpotensi menaikkan harga pangan.

Josua menilai bahwa dampak dari El Nino ke depan sangat bergantung pada antisipasi pemerintah dalam menghadapi kenaikan harga-harga pangan tersebut.

“Apabila pemerintah telah mengantisipasi dengan cadangan pangan, utamanya beras, yang cukup, maka pada saat kenaikan harga akibat berkurangnya produksi, pemerintah dapat mengantisipasi dengan melakukan operasi pasar untuk mengendalikan kenaikan harga tersebut,” jelasnya.

Selain itu, Josua menilai bahwa pemerintah juga perlu menyiapkan opsi impor jika memang kebutuhan beras tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh produksi domestik.

Dia menambahkan, untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya tekanan inflasi, pemerintah pun harus berupaya mempercepat dan mengefisienkan penyaluran bansos bagi masyarakat yang berhak mendapatkan bansos.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper