Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Naik ke Rp14.692 jelang Putusan Suku Bunga The Fed

Mata uang rupiah ditutup menguat ke posisi Rp14.692 pada perdagangan hari Rabu (3/5/2023) jelang pengumuman suku bunga The Fed.
Mata uang rupiah ditutup menguat ke posisi Rp14.692 pada perdagangan hari Rabu (3/5/2023) jelang pengumuman suku bunga The Fed. Bisnis/Himawan L Nugraha
Mata uang rupiah ditutup menguat ke posisi Rp14.692 pada perdagangan hari Rabu (3/5/2023) jelang pengumuman suku bunga The Fed. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang rupiah ditutup menguat ke posisi Rp14.692 pada perdagangan hari Rabu (3/5/2023) jelang pengumuman suku bunga The Fed dalam FOMC meeting yang melemahkan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 21,5 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.692 setelah pada awal perdagangan dibuka di posisi Rp14.703. Sementara itu mata uang Asia lainnya terpantau bergerak bervariasi  saat indeks dolar AS terpantau menurun 0,40 persen ke level 101.315.  

Yen Jepang menguat 0,71 persen, dolar Singapura menguat 0,18 persen, dolar Taiwan menguat 0,29 persen, won Korea menguat 0,26 persen, rupee India menguat 0,12 persen, yuan China menguat 0,06 persen, ringgit Malaysia menguat 0,28 persen, dan bath Thailand menguat 0,17 persen. Sementara itu, hanya peso Filipina yang melemah 0,01 persen. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan The Fed secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ketika menyimpulkan pertemuan dua hari pada hari Selasa-Rabu (2-3/5/2023) dan fokus investor akan tertuju pada apakah Fed mengisyaratkan jeda atau pengetatan lebih lanjut.

“Pertemuan The Fed terjadi karena pasar keuangan AS terhuyung-huyung akibat kegagalan akhir pekan First Republic Bank yang berbasis di San Francisco serta kekhawatiran bahwa pemerintah dapat kehabisan uang tunai setelah 1 Juni tanpa kenaikan plafon utang,” katanya dalam riset harian, Rabu (3/5/2023). 

Sementara itu dari dalam negeri pelaku pasar terus memantau perkembangan tentang aturan devisa hasil ekspor (DHE) atau revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 yang masih belum ada kejelasan sejak Februari 2023 dan selama ini hanya retorika belaka. Sebelumnya, Sri Mulyani   telah menegaskan bahwa pemerintah akan merampungkan revisi Peraturan Pemerintah (PP) No.1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor pada Februari 2023. 

Namun hingga saat ini, Presiden Joko Widodo belum meneken aturan tersebut. Aturan DHE ini dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia, termasuk menambah likuiditas dolar AS. Apalagi ada kekhawatirannya terkait dengan berakhirnya booming harga komoditas. Termasuk batu bara dan minyak sawit atau CPO serta timah. Penurunan harga CPO secara tahunan telah mencapai 49 persen, sementara timah 35 persen, dan batu bara 42 persen.

Adapun, aturan DHE di dalam revisi PP 1/2019 akan mencakup aturan mengenai jumlah minimal DHE yang harus ditahan beserta waktu lama penyimpanan DHE di dalam negeri, hingga sanksi tegas jika para eksportir tidak menempatkan DHE di dalam negeri. Termasuk juga di dalamnya akan diatur mengenai di mana saja DHE harus disimpan, hingga insentif pajak bagi para eksportir, hingga insentif kepada bank penyimpanan DHE.

Sementara itu, untuk perdagangan besok Ibrahim memproyeksilan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat direntang  Rp14.660- Rp14.750.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper