Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Dunia di Atas US$82 per Barel, Menanti Kabar dari China

Investor akan mengamati rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama China minggu ini, yang diperkirakan akan positif untuk harga komoditas.
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia/Bloomberg-Andrei Rudakov
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia/Bloomberg-Andrei Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah pada awal pekan ini masih bertahan di atas US$82 per barel, didukung oleh rencana OPEC+ untuk memangkas lebih banyak produksi. Selain itu, investor juga mengamati data ekonomi China untuk tanda-tanda pemulihan permintaan konsumen.

Adapun International Energy Agency (IEA) juga memperingatkan bahwa di masa mendatang akan ada kenaikan harga. 

Mengutip data dari pemberitaan Bloomberg, Senin (17/4/2023), harga West Texas Intermediate terpantau diperdagangkan di atas US$82 per barel,  setelah mencatat laju kenaikan mingguan terpanjang sejak Juni.

IEA pada Jumat mengatakan bahwa pemangkasan produksi OPEC+ yang mengejutkan, dapat memperketat pasar lebih dari sebelumnya yang dapat menyebabkan kenaikan harga lebih lanjut. Hal ini akan memberikan lebih banyak tekanan pada konsumen. 

Diketahui bahwa minyak telah pulih setelah krisis perbankan di seluruh pasar, mendorong minyak berjangka ke level terendah 15 bulan pada pertengahan Maret.

Selain itu, pengetatan di pasar global lebih terasa saat stok minyak mentah Amerika Serikat di pusat penyimpanan Cushing menyusut, ditambah lagi gangguan pasokan dari Kurdistan Irak.

Investor juga memperhatikan ekspor energi Rusia, di mana arus negara tersebut tetap bertahan meskipun adanya sejumlah sanksi Barat.

Rusia pun sedikit meningkatkan tingkat pemrosesan minyak pada bulan April, yang menjadi sebuah tanda permintaan yang kuat untuk produk olahannya.

Mengutip Reuters, Senin (17/4/2023), investor akan mengamati rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama China minggu ini, yang diperkirakan akan positif untuk harga komoditas, kata analis CMC Markets Tina Teng.

"Penghasilan dari perusahaan AS juga dapat memberikan petunjuk untuk jalur kebijakan Federal Reserve dan lintasan dolar," jelasnya.

Greenback telah menguat bersamaan dengan kenaikan suku bunga, membuat minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Pedagang bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pinjamannya pada bulan Mei sebesar seperempat persentase poin lagi dan mendorong ekspektasi penurunan suku bunga akhir tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg/Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper