Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lo Kheng Hong Cuan Rp69,6 Miliar dari Saham TINS dalam 2 Tahun, Kok Bisa?

Lo Kheng Hong mampu meraup cuan Rp69,6 miliar dari saham PT Timah Tbk. (TINS) cuma dalam dua tahun pada periode 2002--2004.
Investor saham yang dijuluki Warren Buffet Indonesia Lo Kheng Hong memaparkan materinya pada acara Mega Talkshow Investasi 2020 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2020). Bisnis/Rachman
Investor saham yang dijuluki Warren Buffet Indonesia Lo Kheng Hong memaparkan materinya pada acara Mega Talkshow Investasi 2020 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2020). Bisnis/Rachman

BIsnis.com, JAKARTA – Lo Kheng Hong mampu meraup cuan Rp69,6 miliar dari saham PT Timah Tbk. (TINS) cuma dalam dua tahun pada periode 2002--2004.

Investor yang kerap dijuluki Warren Buffett dari Indonesia itu rela menjual properti villa miliknya untuk membeli saham PT Timah Tbk. (TINS). Pasalnya dia melihat potensi dalam saham BUMN tersebut.

Lo Kheng Hong membeli saham TINS pada 2002 di harga Rp290 per saham sebanyak 24 juta saham. Kemudian Warren Buffett Indonesia ini menjualnya dua tahun kemudian di harga Rp2.900 per saham. Maka, Lo Kheng Hong meraup keuntungan hingga 900 persen atau sekitar Rp69,60 miliar. 

LKH menyebut pada 2002, dirinya kehabisan uang tunai saat hendak membeli saham emiten pelat merah tersebut. Menurutnya saat itu TINS memiliki nilai pasar yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai buku ekuitasnya. 

“Bahkan saya jual villa mewah saya untuk beli TINS karena saya tidak punya uang saat itu,” katanya dalam Seminar Saham Spesial, di GBI WTC Serpong, Sabtu (25/3/2023). 

Lo Kheng Hong juga mengungkapkan dirinya tidak membedakan emiten BUMN maupun emiten swasta selama valuasinya murah dan perusahaanya bagus atau biasa dia sebut membeli mercy harga bajaj. 

“Meski sekarang [saya] lebih banyak swasta, sebetulnya tidak ada bedanya BUMN dan swasta,” katanya. 

Lo Kheng Hong memaparkan pembelian saham tergantung dengan prospek emiten ke depan, dengan membeli saham satu perusahaan karena kinerja masa depan. Contohnya ketika LKH membeli saham emiten yang merugi. 

“Banyak yang bertanya kenapa beli emiten yang merugi, emiten itu justru valuasinya rendah, tapi aset di dalamnya masih banyak, jadi yang dilihat adalah prospeknya,” jelas LKH. 

Setidaknya ada lima karakteristik emiten yang menurut LKH menarik dan akan menjadi wonderful company. memaparkan 5 ciri emiten yang disebut sebagai wonderful company dan layak untuk dikoleksi yaitu, memiliki valuasi murah, memiliki kas yang baik dan nihil utang, mampu menghasilkan laba untuk pelunasan utang, memiliki tata kelola yang baik serta bisnis yang bagus. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Artha Adventy
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper