Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Bank Digital RI saat Silicon Valley Bank Bangkrut

Bank digital perlu meningkatkan likuiditas dengan cara menggelar rights issue untuk memperkuat kinerja dan berkompetisi dengan sesamanya. 
Ilustrasi bank digital. /Freepik
Ilustrasi bank digital. /Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Guncangan di pasar keuangan global akibat kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) menjadi tantangan tersendiri bagi bank digital Indonesia, termasuk dari sisi likuiditas. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan sejumlah kinerja bank digital saat ini berada dalam performa yang kurang baik jika melihat dari sisi bottom line.

“Sebenarnya kalau kita melihat dari sisi bottom line mengalami kinerja kurang baik, atau performa kurang baik. Berbeda dengan bank BUKU 4 yang terlihat kinerjanya positif,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (17/4/2023). 

Kondisi ini disebut Nafan bergantung pada likuiditas perbankan tersebut. Bank digital cenderung memiliki likuiditas yang terbatas dibandingkan 4 bank besar. Terlebih 4 bank besar saat ini justru sudah masuk ranah bank digital dengan melayani pembukaan rekening secara online. “Karena infrastruktur mereka sudah memadai,” jelasnya. 

Menurut Nafan, bank digital perlu meningkatkan likuiditas dengan cara menggelar rights issue untuk memperkuat kinerja dan berkompetisi dengan sesamanya. 

Terlebih, faktor eksternal saat ini menjadi penambah tantangan tersendiri terutama kolapsnya SVB yang dikhawatirkan merembet pada sektor finansial AS dan industri keuangan global lainnya. 

Bangkrutnya SVB disebabkan oleh permasalahan klasik yaitu financial global liquidity yang terbatas. Dengan kondisi seperti ini, investor diharapkan lebih bersikap hati-hati.

Sementara itu, terdapat peningkatan transaksi digital, menurut Nafan hal tersebut akan lebih berdampak pada bank konvensional saja. Terlihat dari permintaan mobile banking dan internet banking yang tinggi. 

Bank konvensional berperan dalam meningkatkan digitalisasi keuangan di Tanah Air. Selain Bank BUKU 4 juga memiliki kemampuan sebagai penyedia likuiditas di bidang pasar keuangan dalam rangka perekonomian bangsa. 

Perekonomian Indonesia diprediksi bisa risilient dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat salah satunya adalah kolapsnya SVB tersebut. 

“Jadi kita lihat tren pergerakan saham buku 4 uptrend, beda dengan bank digital yang memang trennya menunjukkan sebaliknya,” imbuhnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper