Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investor Asing Bukukan Net Sell Rp2,54 Triliun di 2023, Kapan Mulai Masuk Lagi?

Investor asing diperkirakan akan kembali ke pasar modal Indonesia meski sepanjang 2023 telah lakukan aksi net sell hingga RP2,54 triliun.
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu kantor perusahaan sekuritas di Jakarta, Kamis (12/1/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu kantor perusahaan sekuritas di Jakarta, Kamis (12/1/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Investor asing diperkirakan bakal segera kembali ke pasar modal, seiring dengan nilai beli bersih asing yang tercatat pada perdagangan sepekan terakhir. Rezim pengetatan moneter yang mulai berakhir juga menambah kepercayaan investor untuk kembali ke aset yang lebih berisiko.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan bahwa asing membukukan net buy sebesar Rp276,57 miliar pada perdagangan Senin (30/1/2023). Sepanjang 2023, asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,54 triliun.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM mencatat arus masuk dana asing di pasar saham mencapai US$156 juta atau sekitar Rp2,3 triliun dalam dua pekan terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh optimisme pada prospek ekonomi global yang lebih baik daripada sebelumnya.

“Salah satu penyebabnya adalah musim dingin di berbagai wilayah di dunia yang tidak seburuk perkiraan, termasuk di Eropa yang paling terdampak langsung dari konflik Rusia dan Ukraina,” kata Roger, Senin (30/1/2023).

Sementara itu, muncul juga harapan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara besar di Eropa tidak mengalami resesi tahun ini. Akibatnya, persepsi pasar terhadap risiko ke depan lebih baik.

Roger juga mengatakan inflasi AS yang cenderung turun memberi harapan bahwa kenaikan suku bunga kebijakan di AS, atau siklus pengetatan kebijakan moneter AS akan segera berakhir.

“Kami memperkirakan pada pertemuan FOMC pekan ini, The Fed akan menaikkan FFR sebesar 25 basis poin, diikuti dengan kenaikan serupa pada bulan Maret ke posisi 5,0 persen dan akan bertahan pada posisi tersebut sampai dengan akhir tahun ini,” kata Roger.

Dari dalam negeri, optimisme datang dari Bank Indonesia yang memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga selama Agustus 2022 sampai Januari 2023 Sudah memadai untuk memastikan inflasi inti terkendali sesuai sasaran. Mirae Asset memperkirakan kenaikan suku bunga di Januari 2023 merupakan kenaikan terakhir dalam siklus pengetatan moneter.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengemukakan investor asing tidak benar-benar hengkang dari dalam negeri, melainkan beralih ke instrumen investasi lain. Di sisi lain, data RTI menunjukkan adanya arus masuk modal asing sebesar Rp1,71 triliun dalam sepekan terakhir.

Sepanjang Januari 2023, asing mencatatkan arus masuk atau inflow di surat berharga negara (SBN) sebesar Rp48,08 triliun. Sementara itu, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, asing mencatatkan inflow sebesar Rp47,4 triliun pada kurun 2–27 Januari 2023.

“Jumlah asing yang memiliki SBN hingga 26 Januari lalu sudah mencapai Rp810,27 triliun dengan persentasenya mencapai 15,07 persen. Hal ini tentunya lebih besar dari posisi 30 Desember 2022, di mana asing memiliki SBN sebesar Rp762,19 triliun atau sekitar 14,36 persen dari total kepemilikan SBN,” papar Liza.

Dia mencatat adanya kecenderungan investor domestik kembali beralih ke pasar saham karena kondisi global yang membaik. Hal ini terlihat dari kenaikan IHSG dalam sepekan lalu.

Gerak positif indeks komposit turut dipengaruhi sentimen sejumlah data ekonomi, seperti data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal IV/2022 yang mencapai 2,9 persen atau di atas estimasi pasar 2,6 persen.

Di sisi lain, melemahnya pasar perumahan seperti tergambar pada Building Permits and New Home Sales pada Desember 2022 mengimbangi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang masih ketat. Hal ini tidak lepas dari angka Initial Jobless Claims mingguan terakhir yang masih lebih kecil dari perkiraan.

Optimisme pasar juga datang dari zona Eropa dengan belanja yang menunjukkan ekspansi. Survei Consensus Economics menunjukkan Eropa punya peluang terhindar dari resesi berkat penurunan harga energi serta pembukaan kembali perekonomian China.

“Serangkaian kombinasi data ekonomi di atas menunjukkan perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli yang dibutuhkan The Fed untuk menyimpulkan sebuah soft landing. Dengan demikian pasar dapat mengharapkan laju kenaikan suku bunga yang mulai mengendur dan lebih berminat pada investasi yang lebih berisiko,” jelas Liza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper