Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas di Tahun Kelinci Air Apakah akan Melompat-lompat?

Harga emas di tengah tahun kelinci air berpotensi menguat di tengah pelemahan dolar AS dan sinyal pelambatan kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg.
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas di tengah tahun kelinci air berpotensi menguat di tengah pelemahan dolar AS dan sinyal pelambatan kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Harga emas terpantau menguat pada akhir perdagangan Jumat (6/1/2023) mendekati level tertinggi tujuh bulan, dan berpotensi lanjut menanjak setelah pertumbuhan pekerjaan AS yang moderat menjadi sinyal perlambatan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Berdasarkan data nonfarm payrolls AS tumbuh sebesar 223.000 pada Desember atau sekitar 40.000 di bawah level November. Tetapi, tetap tumbuh di atas perkiraan 200.000 oleh para ekonom.

Hasil positif itu tetap membuat pelaku pasar masih bertaruh pada bank sentral akan melakukan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada keputusan Februari. Hal itu setelah kenaikan 50 basis poin pada Desember dan empat kenaikan berturut-turut sebesar 75 basis poin antara Juni sampai November.

“Laporan nonfarm payrolls mendukung harga emas dunia kembali menguat karena The Fed lebih sedikit menaikkan suku bunga di tahun ini," kata Gema Merdeka Goeyardi, President and Founder Astronacci Aviatio dalam riset, dikutip Senin (9/1/2023).

Tanda-tanda pelemahan dolar AS lebih lanjut karena sektor jasa menyusut akan mendukung harga emas sebagi lindung nilai dan emas akan kembali di minati.

Suku bunga AS saat ini berada di puncak 4,5 persen setelah The Fed menambahkan 425 basis poin ke suku bunga sejak Maret. Sebelumnya, suku bunga memuncak hanya 0,25 persen karena bank sentral memangkasnya setelah wabah Covid-19 pada Maret 2020.

Harga emas Comex pada penutupan perdagangan Jumat (6/1/2023) naik 1,58 persen ke US$1.869,70 per troy ons. Adapun, harga emas Spot naik 1,79 persen ke US$1.865,69.

Gema memperoyekikan harga emas pada Senin (9/1/2023) akan di perdagangkan di rentang US$1.855,45– US$1.872,30 per troy ons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper