Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Grup Salim (META) Berambisi Miliki Tol MBZ Sepenuhnya

PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) berencana menambah lagi kepemilikan sahamnya di Tol MBZ.
PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) berencana menambah lagi kepemilikan sahamnya di Tol MBZ. /Antara
PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) berencana menambah lagi kepemilikan sahamnya di Tol MBZ. /Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten infrastruktur Grup Salim, PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) berambisi menguasai mayoritas saham PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek pengelola tol layang Mohamed Bin Zayed (MBZ).

Setelah mengakuisisi 40 persen kepemilikan saham tol MBZ senilai Rp4,38 triliun, META melalui PT Marga Utama Nusantara (MUN) menjadi pemegang saham berjumlah sama dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) sebesar 40 persen. Sisa 20 persen dimiliki oleh PT Ranggi Sugiron Perkasa.

Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan menegaskan kontribusi tol MBZ ke kinerjanya bakal menjadi yang terbesar dari seluruh portofolio bisnis tol yang dimiliki. Melalui MUN, META memegang konsesi mayoritas di tiga ruas tol dengan total pendapatan per kuartal III/2022 sebesar Rp426 miliar.

Dia menegaskan cukup terbuka meminang sisa saham lainnya guna menjadi pemegang saham mayoritas. Alasannya, kepemilikannya masih sama dengan JSMR, membuat META tidak dapat mengkonsolidasikan pendapatan dari tol MBZ di laporan keuangannya.

"[Tol MBZ] ini paling besar, apalagi kalau punya si bos satu lagi pemegang 20 persen dijual ke kami. Kami tidak berani bicara, [tol MBZ] ini bak gadis cantik, begitu ditawari kami pasti maju. Ada arah ke sana mudah-mudahan," tandasnya, Rabu (22/12/2022).

Danni menerangkan jalan tol layang MBZ ini memiliki volume yang cukup besar. Berdasarkan datanya, volume lalu lintas antara 400.000--500.000 kendaraan per hari dengan tarif antara Rp20.000--Rp30.000.

Jika berandai-andai, dengan angka minimal 400.000 kendaraan per hari dan tarif Rp20.000 per kendaraan, pendapatan tol MBZ per tahun mencapai Rp2,92 triliun.

Dengan demikian, baru dari kepemilikan 40 persen saja pertumbuhan pendapatan dari segmen tol META dapat melesat, apalagi jika pendapatan tersebut terkonsolidasi dalam laporan keuangannya.

Dia mencontohkan dengan kepemilikan minoritas di tol PT Jakarta Lingkar Baratsatu, laba bersih entitas asosiasi tercatat sebesar Rp100 miliar kontribusinya. JLB memiliki pendapatan Rp500 miliar, dengan EBITDA Rp400 miliar atau EBITDA margin 80 persen.

Dengan begitu, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Marga Utama Nusantara ini mencatatkan laba bersih yang masuk ke kantong META mencapai Rp100 miliar. Dengan keberadaan tol MBZ tentu akan jauh lebih besar lagi.

"Gambaran ke pendapatan bisa lebih dari double digit pertumbuhannya, tahun ini 25 persen pertumbuhannya tanpa MBZ, pendapatan tol saja malah tumbuh 33 persen, EBITDA margin tumbuh 60 persen, bottom line lebih tinggi lagi, apalagi kalau ada tol MBZ," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper