Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Di Bali, Adaro (ADRO) Raih Kerja Sama Proyek Listrik hingga Aluminium

Adaro meraih kerja sama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 70 megawatt (MW), dan pengembangan smelter aluminium.
Adaro meraih kerja sama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)  berkapasitas 70 megawatt (MW), dan pengembangan smelter aluminium.
Adaro meraih kerja sama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 70 megawatt (MW), dan pengembangan smelter aluminium.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten batu bara dan energi PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) yang dinakhodai Garibaldi Thohir meraih sejumlah kerja sama proyek dalam ajang B20 dan G20 di Bali baru-baru ini.

Setidaknya, ada dua kerja sama yang diraih Grup Adaro, yakni proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tanah Laut, Kalimantan Selatan, berkapasitas 70 megawatt (MW), dan pengembangan smelter aluminium di Kawasan Industri Hijau, Kalimantan Utara.

Total Eren dan PT Adaro Power memenangkan tender pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tanah Laut, Kalimantan Selatan, berkapasitas 70 megawatt (MW). Konsorsium tersebut terpilih setelah memberikan penawaran harga jual beli listrik terendah kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Penawaran itu menjadi yang terendah dalam sejarah pembangunan PLTB di Indonesia. Dalam pembangunan PLTB di Sidrap, penawaran harga terendah adalah sebesar US$11 sen per kWh. Kemudian, PLTB Jeneponto turun lagi sebesar US$10 sen per kWh.

Sementara itu, penawaran konsorsium Total Eren dan Adaro Power untuk PLTB Tanah Laut itu mencapai US$5,5 sen per kWh. 

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan letter of intent (LoI) oleh Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Managing Director Australia & Indonesia Total Eren Kam Tung Ho, dan Direktur PT Adaro Power Mustiko Bawono, serta disaksikan oleh Presiden Direktur PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (Adaro) Garibaldi Thohir di Bali, pada Selasa, (15/11/2022).

"Penetapan pemenang sebagai pengembang proyek merupakan salah satu milestone penting untuk menuju tahapan selanjutnya, yaitu penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dan financial close," kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo melalui siaran pers, Rabu (16/11/2022).

Presiden Direktur Adaro Energy Indonesia Garibaldi Thohir mengatakan, Adaro terus berupaya melakukan transformasi dan tumbuh menjadi perusahaan yang lebih ramah lingkungan.

“Proyek ini menunjukkan komitmen kami dalam membangun Adaro yang lebih hijau melalui pilar Adaro Green, yang fokus pada pengembangan berbagai sumber energi baru terbarukan,” kata Garibaldi.

Sementara itu, Direktur PT Adaro Power Mustiko Bawono mengataka, Adaro Power dan mitra, Total Eren, bersyukur telah berhasil memenangkan proyek PLTB Tanah laut dengan kapasitas 70 MW.

“Dengan dukungan dan kerja keras dari instansi finansial serta mitra kontraktor dan pabrikan, kami berharap bahwa proyek strategis ini dapat mendukung Pemerintah dan PLN mencapai target bauran energi baru terbarukan di Indonesia,” kata Mustiko.

Selain itu, Managing Director Total Eren Australia & Indonesia Kam Tung Ho menuturkan, pihaknya menilai positif kesempatan yang diberikan PLN untuk pengembangan PLTB Tanah Laut tersebut.

Tatal Eren memiliki aset energi baru terbarukan mencapai 3,7 gigawatt (GW) yang telah beroperasi atau sedang dalam masa konstruksi secara global hingga saat ini. Khusus kawasan Asia-Pasifik, Total Eren memiliki lebih dari 1,1 GW proyek pembangkit listrik tenaga angin dan surya.

"Kami sangat menantikan dimulainya pembangunan PLTB Tanah Laut. Total Eren telah menginisiasi pengembangan proyek ini selama 7 tahun terakhir dengan proses tender yang kompetitif,” kata Kam Tung.

Sementara itu, sebelumnya Hyundai Motor Company dan anak usaha ADRO, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), menandatangani nota kesepahaman untuk menjamin pasokan aluminium yang stabil di tengah peningkatan permintaan terhadap aluminium untuk manufaktur otomotif.

Kerja sama ini juga dilakukan untuk membentuk suatu sistem yang komprehensif dan koperatif untuk produksi dan pasokan aluminium oleh ADMR melalui perusahaan anaknya PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Acara penandatanganan Nota Kesepahaman ini dilakukan disela-sela pertemuan B20 di Bali Nusa Dua Convention Center, Indonesia, oleh Jaehoon Chang, Presiden dan CEO Hyundai Motor Company dan Garibaldi Thohir, Presiden Komisaris PT Adaro Minerals Indonesia Tbk.

Kolaborasi antara Hyundai Motor Company dan ADMR menandai komitmen perusahaan untuk mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan, terutama netralisasi karbon.

“Aluminium di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan energi dipandang akan berdaya saing di masa depan,” ungkap Christian Ariano Rachmat, Presiden Direktur ADMR dalam keterangan pers, Senin (14/11/2022).

Aluminium hijau Indonesia juga digolongkan sebagai aluminium berkarbon rendah yang diproduksi menggunakan PLTA, yang merupakan sumber listrik ramah lingkungan, serta diharapkan akan menjadi pasokan aluminium yang memenuhi kebijakan netralisasi karbon HMC di tengah peningkatan permintaan aluminium di antara para produsen otomotif global.

Selain itu, suplai dan permintaan telah menjadi tidak stabil karena variabel-variabel situasional tak terduga yang telah mendorong peningkatan harga energi untuk produksi aluminium.

“Hyundai Motor Company telah mulai mengoperasikan pabriknya di Indonesia serta aktif bekerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang dimana perusahaan dapat bersinergi dalam industri otomotif ke depannya, misalnya dengan berinvestasi di perusahaan patungan yang memproduksi sel baterai,” kata Jaehoon Chang, Presiden dan CEO Hyundai Motor Company.

Kerja sama smelter aluminium ini, lanjut Chang, juga diharapkan akan memperkuat hubungan kerja sama antara Hyundai Motor Company dan Indonesia dengan sinergi yang lebih kuat.

Poin-poin kerja sama dalam Nota Kesepahaman ini meliputi produksi dan pasokan aluminium yang diproduksi KAI dan HMC berhak untuk membeli aluminium yang diproduksi KAI pada tahap awal, dan kemudian negosiasi pertama mengenai pembelian aluminium rendah karbon yang diproduksi KAI di masa mendatang dengan volume offtake yang belum ditentukan pada kisaran sekitar 50.000 TPA sampai 100.000 TPA.

Christian menambahkah, kerja sama ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap proses hilirisasi mineral Indonesia di kawasan industri hijau terbesar dunia yang berlokasi di Kalimantan Utara.

“Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan dan Hyundai Motor Company yang memiliki rekam jejak, pengalaman, dan teknologi mutakhir untuk kendaraan listrik, kami berharap untuk mencapai tanggal operasi komersial [COD] pada kuartal pertama 2025 dan memproduksi aluminium sebanyak 500.000 TPA pada tahap awal,” ujarnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper