Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penguatan Rupiah Nantikan Taji Bank Indonesia

Pelemahan rupiah dipicu kekhawatiran bahwa selisih bunga Bank Indonesia (7DRRR) dengan the Fed (FFR) akan semakin menipis.
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan rupiah masih terus melemah menuju level psikologis Rp15.500 per dolar AS. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut membawa rupiah ke Rp16.000 per dolar AS apabila Bank Indonesia tak segera bertindak.

Pada penutupan perdagangan Selasa (18/10/2022), mata uang Garuda ditutup menguat 24 poin atau 0,16 persen ke Rp15.463 per dolar AS. Namun, jika menilik sepanjang 2022, rupiah mencatatkan pelemahan hingga 8,66 persen.

Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan, penyebab pelemahan rupiah makin parah belakangan ini adalah kekhawatiran bahwa selisih bunga Bank Indonesia (7DRRR) dengan the Fed (FFR) akan semakin menipis.

“Karena Fed masih akan menaikkan suku bunga 75 bps pada November dan Desember, sedangkan tidak ada kepastian BI akan menaikkan suku bunga 50-75 bps per bulan di masing-masing bulan Oktober-Desember,” paparnya kepada Bisnis, Selasa (18/10/2022).

Saat ini, selisih suku bunga kebijakan BI dan The Fed masing-masing adalah 4,25 persen dan 3,25 persen atau selisih 100 bps, padahal, di awal tahun selisih ini adalah 3,5 persen dan 0,25 persen atau mencapai 325 bps.

“Bila BI tidak menaikkan suku bunga secara agresif hingga akhir tahun untuk menjaga selisih suku bunga kebijakan BI VS Fed melebihi 100 bps, maka tidak tertutup kemungkinan rupiah akan melemah ke level Rp16.000 per dolar AS,” ungkapnya.

Bukan hal baik, pasalnya pelemahan rupiah bisa berakibat pada tingginya aksi jual asing di pasar obligasi maupun saham.

“Bila tidak ditanggulangi, penurunan IHSG bisa menembus resisten teknikal di 6.700, turun ke 6.500 atau paling buruk ke 6.000,” imbuhnya.

Namun di sisi lain, kondisi di pasar obligasi lebih baik karena BI menjaga yield SUN pasar obligasi dengan menggunakan kebijakan operation twist.

“Untuk penguatan rupiah, langkah yang paling dinantikan pelaku pasar adalah BI menaikkan suku bunga dengan agresif sebesar 50 bps setiap bulannya hingga Februari atau Maret tahun depan,” kata Lionel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper