Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Genjot Laba, TINS Pacu Industri Hilir Timah dan Kontribusi Anak Usaha

TINS telah memiliki strategi untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga timah sepanjang semester II/2022.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 01 Oktober 2022  |  03:00 WIB
Genjot Laba, TINS Pacu Industri Hilir Timah dan Kontribusi Anak Usaha
Negara penghasil timah - Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan pelat merah bagian Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Timah Tbk. (TINS) berupaya tak sekadar bergantung harga komoditas timah untuk mempertahankan kinerja laba.

Sekretaris Perusahaan TINS Abdullah Umar Baswedan mengakui bahwa lonjakan harga timah menjadi berkah pada semester I/2022, sebab membawa laba bersih periode itu menembus Rp1,08 triliun, tercatat tumbuh 301 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan semester I/2021 yang hanya Rp270 miliar.

"Laba bersih didukung harga komoditas timah yang menggembirakan di awal tahun 2022. Kami tetap optimistis bisa menutup tahun dengan membukukan laba, meskipun saat ini eranya VUCA atau volatility, uncertainly, complexity, and ambiguity, yang tentu akan turut berdampak pada permintaan dan harga komoditas timah," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (30/9/2022).

Sebagai perbandingan, TINS membukukan laba bersih Rp1,3 triliun sepanjang periode 2021, tercatat membalikkan rugi sepanjang periode 2020, tepatnya minus Rp341 miliar.

Terkini, di tengah potensi fluktuasi harga timah sepanjang semester II/2022, Umar menekankan bahwa TINS telah memiliki strategi untuk mengantisipasinya. Salah satunya, yaitu dengan memperbaiki rantai bisnis perusahaan, baik segmen bisnis timah maupun non-timah.

"Kami akan melakukan efisiensi di berbagi lini bisnis. Misalnya, kontribusi anak usaha segmen non-pertimahan periode 2022 diperkirakan akan meningkat menjadi 28 persen terhadap laba bersih konsolidasian. Ada juga strategi keuangan, khususnya penurunan beban keuangan dengan pembayaran pinjaman bank jangka pendek," tambahnya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan TINS per Juni 2022, total pendapatan operasi mencapai Rp7,47 triliun, tercatat naik 27,3 persen yoy ketimbang capaian per Juni 2021 di angka Rp5,87 triliun.

Sebagai gambaran, logam timah mengambil porsi pendapatan Rp5,91 triliun per Juni 2022 dari Rp4,97 triliun per Juni 2021. Pendapatan dari pertimahan lain, yaitu tin chemical mengambil porsi Rp786,58 miliar dari sebelumnya Rp432,99 miliar, serta tin solder dengan porsi Rp216,3 miliar dari sebelumnya Rp120,4 miliar.

"Ke depan, untuk lini bisnis terkait timah, kami menyiapkan beberapa strategi, yaitu memperkuat penambangan darat dan laut, meningkatkan praktik penambangan yang terkendali untuk memastikan ketersediaan bijih timah, memperkuat eksplorasi di tambang primer, dan meningkatkan kontribusi dari produk hilir timah," ungkap Umar.

Di sisi lain, pendapatan dari segmen non-timah pun kompak tumbuh. Antara lain, batu bara mengambil porsi pendapatan Rp306,4 miliar dari sebelumnya Rp169,7 miliar, nikel pun naik menjadi Rp91,9 miliar dari sebelumnya Rp72,9 miliar.

Ada lagi, real estat naik ke Rp86,9 miliar dari sebelumnya Rp61,9 miliar, jasa pengangkutan dan asuransi mencapai Rp36,7 miliar dari sebelumnya Rp30,4 miliar, serta jasa galangan kapal Rp29,8 miliar dari sebelumnya Rp8,2 miliar.

Sekadar informasi, TINS masuk ke bisnis terkait batu bara lewat PT Tanjung Alam Jaya dan PT Truba Bara Banyu Enim. Adapun, Timah Nikel Sejahtera dan Timah Investasi Mineral merupakan anak usaha terkait nikel, Timah Karya Persada Properti untuk real estat, sementara Timah Argo Manunggal untuk pengelolaan reklamasi lahan pascatambang.

Adapun, industri tin chemical dan tin solder yang merupakan upaya membentuk industri hilir timah yang ditopang anak usaha bertajuk PT Timah Industri. Penguatan anak usaha ini juga merupakan upaya TINS ikut andil dalam ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

"Kami siap mendukung ekosistem industri EV di Indonesia. Salah satunya dengan kesiapan memasok kebutuhan bahan baku, baik dalam bentuk timah batangan, maupun solder untuk mendukung rangkaian ekosistem ini," ungkap Umar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timah MIND ID Kinerja Emiten BUMN
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top