Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengukur Dampak Kenaikan Suku Bunga Bagi Pasar Obligasi

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 bps menjadi sentimen negatif pasar obligasi.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 27 September 2022  |  09:50 WIB
Mengukur Dampak Kenaikan Suku Bunga Bagi Pasar Obligasi
ilustrasi obligasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi sentimen yang cukup mengejutkan pasar obligasi.

Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula Ridha menjelaskan, meski berpengaruh secara negatif di pasar obligasi, kenaikan suku bunga BI sebesar 50 basis poin (bps) menjadi langkah forward looking yang tepat untuk menanggulangi inflasi ke depannya.

“Semakin cepat inflasi mencapai puncak dan melandai, semakin cepat juga investor dapat menemukan entry level yang sesuai dan pasar obligasi dapat lebih bergairah,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Senin (26/9/2022).

Dampak kenaikan suku bunga BI tersebut diharapkan hanya sementara, dengan kenaikan yield masih relatif terbatas kebanyakan di tenor pendek. Ezra melanjutkan, yield 10 tahun masih terjaga di bawah level 7,5 persen sehingga memberi harapan volatilitas yang lebih terbatas. Terlebih, dengan kebijakan BI menjalankan operation twist yang akan menjaga tenor panjang.

“Kenaikan suku bunga 50 bps diperkirakan juga dapat menjaga stabilitas nilai tukar yang sempat melemah setelah adanya kenaikan suku bunga The Fed sebesar 75 bps,” imbuhnya. Ke depannya, data inflasi atau tenaga kerja AS serta kebijakan moneter The Fed akan tetap menjadi fokus pasar.

Sebelumnya, Analis Obligasi Samuel Sekuritas Indonesia, Fikri C. Permana mengatakan investor khususnya individu akan relatif menghindari risiko dengan memilih instrumen risiko lebih rendah, salah satunya obligasi ritel seperti ORI.

ORI022 yang baru saja diluncurkan hari ini memiliki sejumlah daya tarik tendensi risk-on pelaku pasar seiring dengan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dan BI. “Kemudian, adanya literasi finansial masyarakat dan makin mudahnya obligasi ritel untuk dijangkau dapat meningkatkan appetite investor dalam negeri,” tutup Fikri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Bank Indonesia Suku Bunga Kebijakan The Fed
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top