Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Jago (ARTO) Kuat Berkat GOTO, Ini Rekomendasi Analis

Bank Jago (ARTO) masih rentan mendapat sentimen negatif dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Nasabah berada di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Bisnis/Abdurachman
Nasabah berada di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten bank digital besutan Jerry Ng, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) berpotensi terkena dampak kenaikan suku bunga yang lebih besar dibandingkan bank-bank besar.

Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi mempertahankan target harga saham ARTO Rp10.000 per saham, karena harga sahamnya sudah turun seiring perubahan ekspektasi dan multiple untuk perusahaan dengan laba rendah atau yang belum mencetak laba.

“Meski kami meyakini bahwa Bank Jago, yang didukung oleh ekosistem GOTO, akan menjadi yang terdepan di antara bank-bank digital di Indonesia, kami masih tetap berhati-hati, karena dampak kenaikan suku bunga akan lebih besar bagi bank-bank digital ketimbang bank-bank besar,” paparnya dalam riset yang dikutip, Jumat (2/9/2022).

Pada Juli 2022, Bank Jago mencetak laba bersih Rp3,9 miliar, meningkat pesat dari bulan sebelumnya Rp222 juta. Otomatis, laba bersih 7 bulan pertama tahun ini menjadi Rp33 miliar.

Hal ini, lanjut Prasetya, antaralain disebabkan penurunan beban provisi 44 persen month-to-month (MoM) menjadi Rp29 miliar.

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Analis MNC Sekuritas Tirta Citradi menjelaskan, ARTO juga mengalami pertumbuhan dari sisi neraca permodalan dan penyaluran kredit, yang bertumbuh masing-masing 259 persen dan 177 persen secara tahunan pada Juni 2022.

Kenaikan profitabilitas ARTO didukung struktur dana yang membaik serta tingginya pertumbuhan kredit. Tak ketinggalan, aksi korporasi Bank Jago.

Teranyar, ARTO menggandeng GoTo Financial dengan meluncurkan layanan Jago Merchant yang memiliki 15,1 juta mitra usaha.

Kendati terbilang prospektif, saham ARTO masih menjadi pemberat nomor satu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alias top laggard pada 2022, dengan penurunan 52,09 persen sejak awal tahun.

Selama sepekan terakhir, saham ARTO juga masih terkoreksi 3,21 persen, meski pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (2/9/2022) ditutup di zona hijau dengan kenaikan 0,61 persen menjadi Rp8.300.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Cheryl Tanuwijaya mengatakan, saham ARTO terus menurun karena valuasinya yang terbilang mahal, bahkan jika dibandingkan dengan saham bank besar.

“ARTO turun karena valuasi sangat mahal, jauh lebih mahal daripada big banks dengan laba yang baik,” ujar Cheryl kepada Bisnis, Rabu (6/7/2022).

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo menjelaskan penurunan saham ARTO disebabkan penilaian pelaku pasar yang menganggap Bank Jago sudah overvalue.

“Terlebih jika dibandingkan dengan saham bank yang kapitalisasinya juga besar seperti BBRI, valuasi ARTO jauh lebih mahal dibandingkan dengan BBRI,” pungkas Azis kepada Bisnis, Rabu (6/72022).

Meski begitu, bukan berarti tidak ada harapan bagi investor pemegang saham ARTO. Kedua analis sepakat ARTO masih prospektif dan layak dicermati.

Jasa Utama Capital Sekuritas menyematkan ARTO dalam status wait and see. Saham ARTO layak dicermati saat harganya mencapai area support di posisi Rp6.775.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menegaskan ARTO patut diperhatikan dengan saksama, seiring dengan pemulihan ekonomi dan penyaluran kredit yang bisa memperbaiki kinerja Bank Jago.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper