Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Acuan BI Naik, Sektor Saham Ini Berisiko Loyo

Salah satu sektor yang akan terdampak negatif adalah properti mengingat kekhawatiran bank akan menaikkan suku bunga kredit mereka terhadap kredit perumahan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 24 Agustus 2022  |  10:31 WIB
Suku Bunga Acuan BI Naik, Sektor Saham Ini Berisiko Loyo
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/7/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah sektor saham akan merasakan efek negatif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunganya menjadi 3,75 persen.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM mengatakan, kebijakan BI akan berdampak pada sejumlah sektor saham. Menurutnya, salah satu sektor yang akan terdampak negatif adalah properti mengingat adanya kekhawatiran bank akan menaikkan suku bunga kredit mereka terhadap kredit perumahan.

Sektor lain yang berpotensi merasakan dampak negatif kebijakan BI adalah mulltifinance. Roger memaparkan, kenaikan suku bunga pinjaman kemungkinan dapat terjadi jika ke depannya BI agresif menaikkan suku bunga.

“Hal tersebut tentunya akan berpengaruh kepada emiten-emiten terkait,” katanya saat dihubungi, Rabu (24/8/2022).

Roger menambahkan, saat ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih merespon positif kebijakan BI tersebut. Langkah BI dinilai sebagai bentuk antisipasi kenaikan inflasi yang telah mencapai 4,94 persen pada Juli 2022.

Sebelumnya, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan pada Selasa (23/8/2022), diluar dugaan analis pasar modal. Hal ini diperkirakan bakal mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan percepatan inflasi.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk meningkatkan suku bunga 7DRRR sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga Pertalite RON 90 di masa mendatang.

Menyusul pengumuman BI, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan dukungannya untuk kenaikan harga Pertalite dengan mengatakan pembatasan konsumsi bahan bakar bersubsidi tidak cukup untuk mencegah kenaikan lebih lanjut anggaran subsidi energi dan kompensasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham Bank Indonesia suku bunga acuan mirae IHSG
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top