Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Ditutup Merah! Saham BUMI Boncos, BNBR Tebar Cuan

Sebanyak 262 saham menguat, 253 saham melemah, dan 173 saham stagnan pada akhir perdagangan IHSG sore ini.
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/8/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/8/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,43 persen atau 31,10 poin ke 7.129,27 pada akhir pekan, Jumat (12/8/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 262 saham menguat, 253 saham melemah, dan 173 saham stagnan pada akhir perdagangan. Sepanjang hari, IHSG bergerak di zona merah pada rentang 7.113,57 - 7.162,77. 

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), masing-masing anjlok 6,99 persen dan 2,54 persen. 

Saham lain yang masuk jajaran top losers adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) turun 6,67 persen dan saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) anjlok 5,34 persen. 

Saat IHSG melemah, saham PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) melesat 9,26 persen, sementara PT Sari Kreasi Boga Tbk. (RAFI) berada di puncak top gainers dengan kenaikan 9,71 persen. 

Adapun data ekonomi dalam negeri masih cenderung positif. Misalnya, anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN mencatatkan surplus selama tujuh bulan berturut-turut pada tahun ini, dengan catatan surplus Rp106,1 triliun per Juli 2022. Kinerja teranyar itu setara surplus 0,57 persen terhadap PDB.

Sebelumnya, Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan laju IHSG akan didorong oleh penguatan lanjutan Indeks Dow Jones sebesar 0,08 persen menyusul turunnya Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli.

Selain itu, naiknya harga beberapa komoditas seperti minyak mentah 2,70 persen, CPO 3,03 persen, nikel 5,64 persen dan timah 0,47 persen juga berpotensi mendorong IHSG.

Hal tersebut, ditambah lagi dengan berlanjutnya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini berada di level Rp14.700-an dan berlanjutnya penurunan yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun mendekati level 7 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper