Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Asia Variatif Awali Agustus 2022, Beijing Jadi Sorotan

Data akhir pekan menunjukkan kontraksi mengejutkan dalam aktivitas pabrik China, yang menggambarkan biaya preferensi Beijing untuk lockdown Covid-19.
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham di Asia mengawali perdagangan dengan beragam pada Senin (1/8/2022) karena tantangan ekonomi dan regulasi China meredam beberapa optimisme yang dipicu rebound baru-baru ini untuk aset berisiko.

Mengutip Bloomberg, Senin (1/8/2022), kontrak berjangka di bursa Jepang dan Australia menguat, tetapi jatuh untuk pasar Hong Kong setelah bulan terbaik untuk saham global sejak 2020, yang memangkas penurunan tahun ini menjadi 16 persen. Sementara itu kontrak berjangka pada S&P 500 dan Nasdaq 100 juga terseret turun.

Data akhir pekan menunjukkan kontraksi mengejutkan dalam aktivitas pabrik China, yang menggambarkan biaya preferensi Beijing untuk pembatasan mobilitas dalam rangka mengatasi Covid.

Saham Alibaba Group Holding Ltd. tenggelam di perdagangan Wall Street pada akhir pekan lalu setelah ditambahkan ke daftar perusahaan yang menghadapi delisting AS karena gagal memberikan akses ke audit. Penurunan tersebut menekan Indeks Nasdaq Golden Dragon China.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS memulai Agustus dengan posisi tenor 10 tahun di 2,65 persen, turun dari puncak Juni di dekat 3,50 persen. Ekonomi yang melambat telah mendinginkan ekspektasi untuk skala kenaikan suku bunga Federal Reserve yang diperlukan untuk menjinakkan lonjakan inflasi, mendorong reli Juli di saham dan obligasi.

Pasar saham juga mendapat dorongan dari pendapatan AS yang tangguh sebab lebih dari 70 persen perusahaan sejauh ini mengalahkan ekspektasi Wall Street.

“Pasar ingin menjalankan narasi 'peak rates' yang telah memberi aset berisiko ruang bernapas. Kami mengubah pandangan dari bearish ke netral,” kata Eric Robertsen, kepala strategi Standard Chartered Bank Plc.

Kendati demikian, pejabat The Fed mungkin waspada terhadap reli pasar yang memudahkan kondisi keuangan dan dengan demikian membahayakan tujuan membatasi permintaan untuk membantu mengendalikan tekanan harga.

Presiden Fed Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada Minggu (31/7/2022) bahwa bank sentral berkomitmen untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan inflasi jangka panjang 2 persen, target yang masih jauh. Dia tidak memilih kebijakan moneter tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper