Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Asia Diperkirakan Menguat Hari Ini, Investor Nantikan Sejumlah Data Ekonomi

Bursa saham di Asia Pasifik diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini, termasuk bursa Jepang, Australia, dan Hong Kong
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Juni 2022  |  06:50 WIB
Bursa Asia Diperkirakan Menguat Hari Ini, Investor Nantikan Sejumlah Data Ekonomi
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini, Senin (27/6/2022), di tengah penantian investor terhadap data ekonomi di tengah inflasi yang tinggi, pengetatan moneter, dan risiko resesi.

Dilansir Bloomberg, kontrak bursa Jepang, Australia dan Hong Kong menguat setelah indeks saham global melonjak hampir 5 persen global pekan lalu, sekaligus mencatat kinerja terbaik dalam sebulan terakhir.

Sementara itu, kontrak indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 bursa AS tergelincir setelah lonjakan lebih dari 3 persen di kedua indeks pada hari Jumat. Imbal hasil Treasury AS melemah dari level tertinggi pada Juni karena kekhawatiran pertumbuhan menjadi pusat perhatian, dengan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di 3,13 persen.

Minyak mentah turun menjadi sekitar US$106 per barel di tengah kekhawatiran mengenai permintaan. Pelaku pasar juga memantau pertemuan KTT G7, yang diperkirakan menghasilkan komitmen untuk memberikan dukungan tanpa batas bagi Ukraina dalam pertahanannya melawan invasi Rusia.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan jangka panjang, mengawali perdagangan dalam pekan terakhir Juni 2022, sekaligus pekan terakhir semester I/2022.

“(Hal ini) mengingat capital inflow tercatat secara Ytd masih diatas 60 T, menunjukkan minat investor masih cukup besar untuk berinvestasi ke dalam pasar modal Indonesia,” tulis William dalam risetnya, dikutip Senin (27/6/2022).

Investor saat ini tengah mengurai data yang masuk untuk mengetahui apakah lonjakan inflasi akan mendekati puncaknya. Pekan ini akan diwarnai oleh data dari sejumlah negara, termasuk PDB AS dan data manufaktur China.Jika benar, hal itu bisa memberi pembuat kebijakan kelonggaran untuk meredakan kenaikan suku bunga yang tajam.

Di sisi lain, skenario yang lebih mengkhawatirkan adalah tekanan harga yang bertahan lama dan kebijakan yang lebih ketat bahkan ketika ekonomi global goyah.

"Ada perasaan bahwa segala sesuatunya tidak seburuk yang kita kira akan terjadi. Ada harapan bahwa mungkin saham sudah oversold, mungkin tidak akan ada resesi," kata pendiri Pepper International, Carol Pepper, dilansir Bloomberg, Senin (27/6/2022).

Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan pada hari Jumat bahwa dia mendukung kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi pada bulan Juli. Sementara itu, Presiden Fed Bank of St. Louis James Bullard mengatakan kekhawatiran resesi AS cenderung berlebihan.

Di sisi lain,  Rusia gagal membayar utang negara dalam mata uang asing untuk pertama kalinya dalam satu abad. Hal ini akibat puncak dari sanksi Barat yang semakin keras yang menutup jalur pembayaran.

AS, Inggris, Jepang, dan Kanada juga berencana mengumumkan larangan impor emas baru dari Rusia selama KTT G-7.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Bursa Asia ihsg hari ini bursa asia hari ini
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top