Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Tetap, Astra International (ASII) Yakin Penjualan Naik

Emiten konglomerasi otomotif, PT Astra International Tbk. (ASII) belum melihat ada perubahan permintaan sektor otomotif seiring dengan tekanan ekonomi dari sentimen suku bunga The Fed dan inflasi dunia yang meroket.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 23 Juni 2022  |  17:27 WIB
Emiten konglomerasi otomotif, PT Astra International Tbk. (ASII) belum melihat ada perubahan permintaan sektor otomotif seiring dengan tekanan ekonomi dari sentimen suku bunga The Fed dan inflasi dunia yang meroket. - Istimewa
Emiten konglomerasi otomotif, PT Astra International Tbk. (ASII) belum melihat ada perubahan permintaan sektor otomotif seiring dengan tekanan ekonomi dari sentimen suku bunga The Fed dan inflasi dunia yang meroket. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten konglomerasi otomotif, PT Astra International Tbk. (ASII) belum melihat ada perubahan permintaan sektor otomotif seiring dengan tekanan ekonomi dari sentimen suku bunga The Fed dan inflasi dunia yang meroket.

Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti menilai belum ada perubahan permintaan di sektor otomotof sebagai akibat situasi global. Indonesia dinilainya masih mampu bertahan.

"Kami belum melihat ada perubahan permintaan otomotif akibat situasi ekonomi global. Kami melihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang kondisi ekonominya lebih baik dibandingkan dengan egara-negara lain, dimana tingkat inflasi tidak setinggi negara-negara lain," katanya kepada Bisnis, Kamis (23/6/2022).

Namun demikian, perseroan akan selalu memperhatikan perkembangan ekonomi dalam dan luar negeri untuk menyesuaikan strategi bisnis, tidak hanya di sektor otomotif, tetapi pada bisnis-bisnis Grup Astra lainnya.

Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil grup Astra pada Mei 2022 mencapai 23.059 unit, turun 18,72 persen dibandingkan dengan Mei 2021 yang sebanyak 28.373 unit. Jumlah tersebut juga menurun bila dibandingkan dengan April 2022 sebesar 46.498 unit.

Penjualan terbanyak masih dari merek Toyota dan Lexus sebanyak 213.412 unit, menurun dibandingkan dengan penjualan periode yang sama tahun lalu sebanyak 18.253 unit.

Selanjutnya, penjualan merek Daihatsu juga turun menjadi 6.981 unit pada Mei 2022 dari 15.861 unit pada Mei 2021. Penjualan Isuzu terpantau meningkat menjadi 2.481 unit dari 1.752 unit.

Sisanya penjualan UD Trucks naik menjadi 139 unit dari 33 unit pada Mei 2021, sedangkan Peugeot juga tercatat naik menjadi 46 unit dari 25 unit.

Adapun, penjualan LCGC Astra naik menjadi 6.442 unit pada Mei 2022 dibandingkan dengan Mei 2021 yang sebanyak 5.807 unit.

Sementara itu, pangsa pasar Astra turun menjadi 47 persen dibandingkan dengan Mei 2021 yang sebesar 52 persen. Adapun, pangsa pasar mobil LCGC Astra juga menurun menjadi 67 persen dibandingkan dengan bulan April 2022 sebesar 71 persen dan Mei 2021 sebesar 75 persen.

Di sisi lain, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen.

Sejalan dengan keputusan ini, Bank Indonesia (BI) menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.

"Untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap 3,50 persen," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Juni 2022 hari ini, Kamis (23/6/2022).

Dia mengatakan keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal  terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara.

Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan masuknya aliran net inflow US$1,5 miliar turut menjadi pertimbangan. BI memperkirakan pada akhir tahun neraca pembayaran juga masih terjaga dengan defisit 0,5 sampai 1,3 persen dari PDB. Neraca pembayaran sendiri ditopang harga komoditas yang tinggi.

Perry mengakui nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Hal yang sama juga dialami negara lainnya. "Seiring ketidakpastian global."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia Suku Bunga astra asii astra international
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top