Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelanggan Batu Bara Berkurang, Borneo Olah Sarana (BOSS) Rugi Rp165,36 Miliar

Emiten produsen batu bara PT Borneo Olah Sarana Tbk. mencatatkan rapor merah pada tahun 2021 dengan menurunnya penjualan dan rugi yang bertambah akibat berkurangnya pelanggan tetap.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 15 Mei 2022  |  12:46 WIB
Komisaris  PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) Johannes Halim (dari kiri) berbincang dengan Presiden Komisaris Freddy Setiawan, Presiden Direktur Freddy Tedjasasmita, dan Direktur Widodo Nurly,  usai paparan publik di Jakarta, Jumat (18/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Komisaris PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) Johannes Halim (dari kiri) berbincang dengan Presiden Komisaris Freddy Setiawan, Presiden Direktur Freddy Tedjasasmita, dan Direktur Widodo Nurly, usai paparan publik di Jakarta, Jumat (18/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen batu bara PT Borneo Olah Sarana Tbk. mencatatkan rapor merah pada tahun 2021 dengan menurunnya penjualan dan rugi yang bertambah akibat berkurangnya pelanggan tetap.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2021, emiten berkode BOSS tersebut mencatatkan penurunan penjualan bersih sebesar 74,46 persen menjadi Rp43,52 miliar, sementara pada tahun sebelumnya tercatat sebesar Rp170,39 miliar.

Adapun pada tahun 2021, penjualan yang dilakukan perusahaan menyusut drastis dari yang awalnya kepada setidaknya 10 perusahaan tetap menjadi hanya empat perusahaan dengan tiga diantaranya merupakan perusahaan baru.

Penjualan BOSS kepada pihak ketiga pada tahun 2021 terdiri dari penjualan kepada PT Mikhael Wirausaha Abadi sebesar Rp28,80 miliar, PT Vortex Inter Coal sebesar Rp3,25 miliar, kemudian kepada PT Arta Muda Mandiri Investama sebesar Rp1,10 miliar.

Sementara itu penjualan kepada PT Mahakam Makmur Lestari tercatat meningkat dari Rp2,10 miliar pada 2020 menjadi Rp10,37 miliar pada 2021.

Pada tahun 2020, penjualan batu bara terbanyak BOSS adalah sebesar Rp54,74 miliar kepada Commodities Intelligence Centre Pte Ltd, tetapi pada tahun 2021 tidak lagi kembali melakukan transaksi.

Oleh karena itu, perseroan pun mencatatkan tambahan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 55,57 persen menjadi Rp165,36 miliar pada tahun 2021. Sedangkan pada tahun 2020 rugi tercatat sebesar Rp106,29 miliar.

Rugi kotor perseroan dari tahun sebelumnya juga mengalami peningkatan yaitu pada 2020 sebanyak Rp8,34 miliar lalu pada 2021 bertambah menjadi Rp25,01 miliar.

Selanjutnya total aset perseroan pada tahun 2021 mengalami penurunan dari Rp699,27 miliar pada tahun 2020 menjadi Rp523,53 miliar, dengan jumlah ekuitas yang berbalik minus dan juga jumlah liabilitas yang turut menurun.

Jumlah ekuitas perseroan pada 2020 dilaporkan sebanyak Rp87,38 miliar lalu pada tahun berikutnya berbalik menjadi minus Rp78,01 miliar. Sedangkan jumlah liabilitas berkurang dari Rp611,90 miliar pada 2020 menjadi Rp601,54 pada tahun 2021.

Pada paparan presentasi paparan publik yang terdapat dalam keterbukaan informasi, perseroan pun menyampaikan pada tahun 2021 menghadapi berbagai tantangan besar yaitu sulitnya mendapatkan pembiayaan dari perbankan.

Perseroan menjelaskan bahwa perseroan sulit mendapatkan pembiayaan dari perbankan untuk sektor batu bara termasuk baru selesainya perkara PKPU yang dihadapi oleh entitas anak yakni PT Bangun Olah Sarana Sukses dan PT Pratama Bersama.

“Lebih lanjut, perusahaan mengalami tantangan dalam mencari calon investor strategis,” ungkap direksi perseroan dalam paparan publik, dikutip Minggu (15/5/2022).

Perseroan menyampaikan saat ini masih dalam upaya untuk mendapatkan investor baru dengan skema pembayaran utang yang jumlahnya cukup besar pada kreditur perseroan sebelumnya.

Di samping itu, perseroan juga menyampaikan tantangan di tahun 2021 diantaranya penerapan atas kriteria Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola Perusahaan atau ESG yang tidak memberikan pembiayaan untuk sektor batu bara, volatilitas harga batu bara, pandemi Covid-19, hingga tergenangnya area produksi tambang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara rugi bersih boss Borneo Olah Sarana Sukses
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top