Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Farmasi dan Kesehatan Tertekan, Begini Rekomendasi Sahamnya

Saham-saham sektor farmasi dan kesehatan masih prospektif kendati ada tekanan harga bahan baku dan jumlah pasien Covid-19 berkurang.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 24 April 2022  |  18:59 WIB
Kantor PT Kalbe Farma Tbk. - kalbe
Kantor PT Kalbe Farma Tbk. - kalbe

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor farmasi terguncang tingginya harga bahan baku obat akibat perang Ukraina dan Rusia yang terus berlarut sekaligus penurunan penjualan produk terkait Covid-19. Namun, sejumlah emiten farmasi masih menarik diperhatikan.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengungkapkan ketergantungan bahan baku impor industri kesehatan di sektor farmasi merupakan kondisi yang ada sampai saat ini, bahkan porsi bahan baku impor di sektor farmasi di atas 90 persen.

"Kondisi ini merupakan kondisi yang tidak sehat secara industri, bagaimana resiko gangguan rantai pasokan akan berpengaruh signifikan terhadap sektor farmasi di tanah air," terangnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (24/4/2022).

Meskipun dilakukan mitigasi seperti diversifikasi sumber pemasok tidak hanya pada 1-2 negara, tetapi tetap kondisi seperti pandemi, krisis geopolitik (perang) akan mempengaruhi kinerja produksi produsen obat-obatan di tanah air.

Di sisi lain, penurunan penjualan produk-produk yang terkait dengan Covid-19 merupakan sesuatu yang sudah diskenariokan saat program vaksinasi mulai dilakukan dan tercermin dari dampak vaksinasi terhadap penyebaran Covid-19 yang sangat signifikan.

Meskipun terjadi penurunan produk-produk terkait Covid seiring dengan penurunan angka Covid, tetapi Praus Capital melihat pertumbuhan di sektor ini menjadi lebih besar pasca pandemi.

Alasannya, pertama, pemerintah akan semakin serius dan fokus untuk mengupayakan kemandirian di sektor kesehatan, dengan belajar dari kondisi pandemi Covid-19.

Dengan demikian, kondisi sektor healthcare tanah air saat ini, memperlihatkan besarnya ruang peningkatan yang tentu membuat pertumbuhan semakin besar. Keseriusan dan fokus pemerintah tersebut akan menjadi stimulus bagi emiten-emiten kesehatan.

Kedua, masyarakat juga akan semakin peduli terhadap kondisi kesehatan, hal ini akan meningkatkan upaya preventif masyarakat sehingga porsi belanja kesehatan mereka juga akan meningkat.

Ketiga, pandemi Covid-19 juga menghasilkan new normal, yang memberikan perubahan gaya hidup masyarakat dalam hal kesehatan. Contohnya, penerimaan masyarakat terhadap produk vaksin atau kegiatan rapid test yang akan menjadi kebiasaan baik covid-19 dan juga non covid-19.

"Jadi saya melihat penurunan produk-produk related Covid akan tersubstitusi oleh produk kesehatan lainnya yang meningkat seiring dengan kesadaran pentingnya kesehatan masyarakat dan juga Pemerintah," tambahnya.

Hal ini juga sudah diantisipasi para pemain di sektor kesehatan, bahkan dengan kebijakan sektor kesehatan pemerintah yang berpihak pada lokal memberikan optimisme bagi pemain industri kesehatan tanah air terhadap potensi besar pasar healthcare Indonesia.

"Tidak hanya bagi pemain yang sudah ada, namun pemain baru. Kita bisa melihat bagaimana grup-grup besar seperti Astra akan fokus di sektor healthcare," jelasnya.

Melihat besarnya yang di garap di sektor kesehatan Indonesia, Alfred optimistis ke depan akan banyak kolaborasi atau kerja sama di antara pemain yang sudah ada di sektor kesehatan dan masuknya pemain-pemain baru yang tergiur pertumbuhan yang tinggi di sektor kesehatan.

Tantangannya lanjutnya, ada di inovasi, seperti menghadirkan produk-produk kesehatan yang bisa memenuhi kebutuhan, dan lebih baik lagi jika mampu menghasilkan (Manufacturer).

Menghasilkan produk-produk yang mensubstitusi produk impor saja, memberikan pertumbuhan yang besar, apalagi jika bisa menghasilkan inovasi produk dengan TKDN yang tinggi.

"Pada kuartal II ini, kami masih melihat adanya pertumbuhan meskipun tidak sebesar pertumbuhan YoY di kuartal II/2021. Di kuartal III/2022 juga seiring dengan skenario Covid-19 yang terus menurun maka akan terjadi penurunan terhadap produk-produk related Covid. Tinggal dilihat penggantian substitusi produk-produk baru terhadap penurunan produk related Covid-19," katanya.

Di industri kesehatan, Alfred melihat sektor penyedia pelayanan kesehatan masih terdapat saham yang memiliki valuasi multiple yang atraktif seperti emiten RS SRAJ, PRIM dan HEAL.

Di farmasi emiten KLBF juga menarik mengingat posisi mereka sebagai Pharmaceutical terbesar. Terakhir, IRRA yang akan masuk ke manufacturer Medical Device & Equipment.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit farmasi rekomendasi saham emiten farmasi
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top